home global news

Menteri Kebudayaan Fadli Zon: Puisi Jadi Cermin Perjalanan Bangsa di Sasana Sastra

Sabtu, 23 Agustus 2025 - 08:46 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon: Puisi Jadi Cermin Perjalanan Bangsa di Sasana Sastra
LANGIT7.ID–Jakarta; Memperingati delapan dekade perjalanan bangsa, Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (Ditjen PPPK) menghadirkan Sasana Sastra: Membaca 80 Tahun Indonesia, sebuah pertunjukan lintas medium yang merayakan kekuatan kata-kata sebagai rekaman perjalanan bangsa. Diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jumat (22/8), acara ini dihadiri lebih dari 500 penonton lintas generasi.

Sasana Sastra menghadirkan kolaborasi lintas generasi antara pejabat negara, sastrawan, dan seniman. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Menteri Agama, Nasaruddin Umar dan Kepala Perpustakaan Nasional, Aminudin Aziz, merupakan deretan pejabat negara yang ikut membacakan puisi. Sedangkan hadir dari deretan sastrawan antara lain Nissa Rengganis, Taufiq Ismail, Jose Rizal Manua, Iman Soleh, Happy Salma, Rania Yamin, Andhini Puteri, dan Esha Tegar Putra.

Menbud mengemukakan bahwa sastra, khususnya puisi, telah menjadi bagian dalam perjalanan bangsa Indonesia, dan kita peringati dalam rangka HUT ke-80 Republik Indonesia. Menbud menjelaskan jika sejak zaman Pujangga Lama, Pujangga Baru, Balai Pustaka, Angkatan 45, dan juga Angkatan 66, puisi selalu menjadi bagian dari perjalanan dan merekam potret perjalanan bangsa.

“Saya berharap, semoga program Sasana Sastra: Membaca 80 Tahun Indonesia malam ini akan memberi kesempatan penting, penghormatan kita kepada para tokoh bangsa yang mengawal perjalanan bangsa Indonesia dengan beragam ekspresi dan kemampuan terbaik mereka. Apapun latar belakang kita pada malam hari ini, dan di manapun kita duduk atau berdiri, semoga semangat kita tidak akan mudah goyah untuk memperkokoh kebangsaan kita,” ujar Menbud dalam keterangannya, Sabtu (23/8/2025).

“Kementerian Kebudayaan, tentu akan ikut membangun ekosistem sastra kita agar bisa kembali hidup dan maju, dalam rangka mengawal hari-hari ke depan menuju Indonesia Emas 2045,” tutupnya.

Selepas sambutan, Menbud membacakan puisi yang ditulis sendiri olehnya yang berjudul “Untukmu Bung Tomo.” Puisi ini ditulis oleh Menbud, Fadli Zon, 40 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 10 November tahun 1985, saat berusia 15 tahun, untuk seorang pejuang yang sangat penting di dalam sejarah Indonesia.

Sedangkan Menag Nasaruddin Umar, pada kesempatannya membacakan dua puisi, yakni Tuhan, Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi WM, dan Sajak Atas Nama karya K.H. Mustofa Bisri. Selain itu Menag juga membacakan catatannya Ketika Algoritma Lebih Kuat Dari Wahyu, yang ditulis ketika dirinya tengah berada di kaki Kabah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya