home sosok muslim

Gus Yahya Ingatkan Beratnya Baiat NU: Dari Ucapan Hingga Tanggung Jawab di Yaumil Hisab

Selasa, 16 September 2025 - 07:49 WIB
Gus Yahya Ingatkan Beratnya Baiat NU: Dari Ucapan Hingga Tanggung Jawab di Yaumil Hisab
LANGIT7.ID-Jakarta;Pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat masa khidmah 2025–2030 pada Ahad (14/9) menjadi momentum penting untuk mengingat kembali betapa besar tanggung jawab yang melekat pada sebuah baiat. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa ikrar yang baru saja diucapkan para pengurus bukanlah formalitas belaka, melainkan janji yang akan dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat.

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya mengaitkan pengalamannya dengan sosok Rais Aam PBNU periode 1999–2014, KH MA Sahal Mahfudh. Beliau menceritakan bahwa Kiai Sahal kerap tidak melafalkan baiat secara penuh ketika diminta memimpin prosesi. Bukan karena mengurangi nilai acara, melainkan karena rasa iba terhadap beratnya beban yang ditanggung oleh pengurus. “Dulu, Kiai Sahal Mahfudh itu seorang 'alim 'alamah, tapi juga sangat welas asih. Setiap kali diminta membaiat, beliau hanya minta dibaca sampai radhītu billāhi rabba. Lalu beliau berkata, ‘sudah, cukup’, tidak diteruskan sampai bayaktukum,” jelasnya, dikutip Selasa (16/5/20205).

Menurut Gus Yahya, alasan di balik sikap tersebut adalah pemahaman mendalam bahwa baiat bukan sekadar simbol. Ada konsekuensi besar yang menuntut ketaatan penuh, kesetiaan, dan kesiapan berjihad di jalan NU dengan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. “Karena saking welas asih-nya, beliau tidak tega. Beliau tahu, beban baiat itu luar biasa berat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya menekankan kepada jajaran PWNU NTB bahwa sumpah yang baru mereka ikrarkan mengandung komitmen mendasar. “Ini bukan main-main. Para pengurus tadi sudah berikrar, bayaktu ‘ala sam’i wa tha’ah, bil jihadi, ‘ala thariqatin Nahdlatil Ulama li i’lai kalimatillah allati hiyal ‘ulya bi qiyadati ‘ulama’i Ahlissunnah wal Jama’ah. Ini jihad. Berat sekali,” tegasnya.

Ia menggambarkan posisi sebagai pengurus NU kerap terlihat menyenangkan pada awalnya. Namun, setelah memasuki pekerjaan nyata, perasaan itu sering berubah. “Awalnya merasa senang, tapi setelah bertemu dengan pekerjaan-pekerjaannya, rasanya seperti benar-benar mendapat musibah. Karena tugasnya begitu banyak dan besar,” ujarnya.

Tidak hanya berhenti pada urusan laporan tahunan atau Konferwil, Gus Yahya menegaskan bahwa setiap pengurus kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. “LPJ-nya Pak Masnun Tahir itu bukan hanya ditunggu lima tahun lagi, tapi nanti juga diuji di yaumil hisab. Ini berlaku juga untuk seluruh jajaran pengurus lainnya,” katanya.

Di akhir pidatonya, Gus Yahya memberikan ucapan selamat kepada PWNU NTB yang resmi dilantik. Namun, ia mengingatkan bahwa ucapan itu harus disertai dengan kesadaran penuh atas amanah yang mereka emban. “Maka sejak awal harus diingat, apa yang nanti akan dilaporkan di yaumil hisab sebagai pemegang jabatan di jajaran Pengurus Nahdlatul Ulama, khususnya PWNU NTB ini,” tandasnya. (NUOnline)
(lam)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya