Kementerian Kebudayaan Gelar Karnaval Bhinneka Tunggal Ika 2025, Rayakan Persatuan dalam Keberagaman
Tim langit 7
Sabtu, 18 Oktober 2025 - 18:29 WIB
Kementerian Kebudayaan Gelar Karnaval Bhinneka Tunggal Ika 2025, Rayakan Persatuan dalam Keberagaman
LANGIT7.ID-Yogyakarta;Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyelenggarakan Karnaval Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian dari perayaan Hari Kebudayaan 2025 yang jatuh setiap tanggal 17 Oktober. Kegiatan yang berlangsung di kawasan Museum Benteng Vredeburg hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta ini mengusung tema “Beragam Budaya, Bersatu Jiwa untuk Indonesia.”
Acara dibuka secara simbolis oleh Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, yang didampingi oleh Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan, Fryda Lucyana K.; Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi; Direktur Diplomasi Kebudayaan, Raden Usman Effendi; dan Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Yayuk Sri Budi Rahayu; dengan menerbangkan merpati putih sebagai tanda dimulainya perayaan yang melambangkan kebebasan, kedamaian, dan semangat persatuan dalam keberagaman budaya Indonesia.
Sebelum karnaval dimulai, rangkaian kegiatan turut dimeriahkan dengan penampilan musik kolintang yang membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa, O Ina Nikeke, dan Gambang Suling, dilanjutkan dengan kolaborasi musik kolintang dan peragaan busana “Selendang Batik Nusantara”, menampilkan 18 perempuan berkebaya yang diiringi lagu Kebaya Indonesia yang bertempat di Kawasan Titik Nol Kilometer.
Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Kolosal “Wanodya Indonesia” yang dibawakan oleh 50 penari perempuan berkebaya, disusul dengan flash mob kebaya yang diiringi lagu Gugur Gunung. Karnaval ini juga dimeriahkan dengan suguhan Reog Ponorogo Manggolo Mudho yang tampil dengan formasi lengkap, yaitu barongan, warok, jathil, pujang ganong, dan pengrawit, yang mewakili kekuatan tradisi dan seni pertunjukan rakyat.
Karnaval Bhinneka Tunggal Ika menampilkan enam formasi tematik yang merepresentasikan kekayaan budaya dan alam Indonesia, yakni: Barisan Garuda Emas; Pelangi di Atas Cakrawala; Gemulai Ombak Seribu Sungai; Harmoni di Bumi Penuh Warna; Untaian Mutiara dari Timur; dan Simfoni Semesta Nusaraya.
Hadir pula dalam kesempatan tersebut Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama, Endah T.D. Retnoastuti; Inspektur II Kementerian Kebudayaan, Mohamad Hadad; jajaran pejabat eselon II di lingkungan Kementerian Kebudayaan, serta Rektor dan Wakil Rektor Universitas Indraprasta PGRI.
Rangkaian acara karnaval ditutup dengan Pagelaran Kolaborasi Wayang Kulit dan Ketoprak di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, menghadirkan Dalang Milenial dari Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dengan bintang tamu Yati Pesek dan para seniman ketoprak Yogyakarta. Pertunjukan ini menjadi refleksi harmoni antara tradisi dan kreativitas generasi muda dalam melestarikan seni pertunjukan rakyat.
Acara dibuka secara simbolis oleh Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, yang didampingi oleh Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan, Fryda Lucyana K.; Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi; Direktur Diplomasi Kebudayaan, Raden Usman Effendi; dan Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Yayuk Sri Budi Rahayu; dengan menerbangkan merpati putih sebagai tanda dimulainya perayaan yang melambangkan kebebasan, kedamaian, dan semangat persatuan dalam keberagaman budaya Indonesia.
Sebelum karnaval dimulai, rangkaian kegiatan turut dimeriahkan dengan penampilan musik kolintang yang membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa, O Ina Nikeke, dan Gambang Suling, dilanjutkan dengan kolaborasi musik kolintang dan peragaan busana “Selendang Batik Nusantara”, menampilkan 18 perempuan berkebaya yang diiringi lagu Kebaya Indonesia yang bertempat di Kawasan Titik Nol Kilometer.
Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Kolosal “Wanodya Indonesia” yang dibawakan oleh 50 penari perempuan berkebaya, disusul dengan flash mob kebaya yang diiringi lagu Gugur Gunung. Karnaval ini juga dimeriahkan dengan suguhan Reog Ponorogo Manggolo Mudho yang tampil dengan formasi lengkap, yaitu barongan, warok, jathil, pujang ganong, dan pengrawit, yang mewakili kekuatan tradisi dan seni pertunjukan rakyat.
Karnaval Bhinneka Tunggal Ika menampilkan enam formasi tematik yang merepresentasikan kekayaan budaya dan alam Indonesia, yakni: Barisan Garuda Emas; Pelangi di Atas Cakrawala; Gemulai Ombak Seribu Sungai; Harmoni di Bumi Penuh Warna; Untaian Mutiara dari Timur; dan Simfoni Semesta Nusaraya.
Hadir pula dalam kesempatan tersebut Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama, Endah T.D. Retnoastuti; Inspektur II Kementerian Kebudayaan, Mohamad Hadad; jajaran pejabat eselon II di lingkungan Kementerian Kebudayaan, serta Rektor dan Wakil Rektor Universitas Indraprasta PGRI.
Rangkaian acara karnaval ditutup dengan Pagelaran Kolaborasi Wayang Kulit dan Ketoprak di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, menghadirkan Dalang Milenial dari Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dengan bintang tamu Yati Pesek dan para seniman ketoprak Yogyakarta. Pertunjukan ini menjadi refleksi harmoni antara tradisi dan kreativitas generasi muda dalam melestarikan seni pertunjukan rakyat.