home masjid

Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? Bayang-Bayang Konflik Agama dan Sains

Selasa, 23 Desember 2025 - 05:52 WIB
Sejarah Islam menunjukkan hubungan agama dan sains yang matang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Meluasnya tafsir ilmiah Al-Quran tidak hanya berakar pada rasa kalah terhadap Barat. Ia juga dipengaruhi oleh trauma sejarah agama di Eropa. Konflik panjang antara gereja dan ilmuwan sejak abad ke-18 menjadi bayang-bayang yang menghantui pemikiran sebagian cendekiawan Muslim.

Sejarah mencatat bagaimana gereja bersikukuh mempertahankan tafsir literal Kitab Suci. Ketika penelitian geologi menyatakan usia bumi jauh lebih tua dari perhitungan teologis, benturan tak terelakkan. Puncaknya terjadi setelah terbit The Origin of Species karya Charles Darwin pada 1859. Ilmuwan yang berbeda pendapat dihukum, bahkan dibungkam.

Peristiwa itu melahirkan kesan luas bahwa agama dan sains adalah musuh abadi. Di dunia Kristen, muncul tradisi apologetika untuk membela agama dari serangan ilmu pengetahuan. Pengalaman traumatis ini turut memengaruhi alam pikir cendekiawan Muslim, meski Islam tidak pernah mengalami konflik serupa.

Kekhawatiran pun muncul: jangan-jangan Islam akan bernasib sama. Dari sinilah lahir dorongan kuat untuk membuktikan bahwa Al-Quran sejalan dengan seluruh temuan ilmiah. Hubungan agama dan sains ditegaskan bukan sekadar harmonis, tetapi identik. Di titik ini, tafsir ilmiah sering melampaui batas kehati-hatian ilmiah.

Quraish Shihab menilai semangat ini kerap digerakkan oleh emosi, bukan metodologi. Ayat-ayat Al-Quran dipaksa menyesuaikan teori modern, tanpa mempertimbangkan konteks bahasa dan tujuan wahyu. Contohnya, penafsiran QS 27:82 sebagai rujukan penjelajahan angkasa, atau QS 55:33 sebagai legitimasi teknologi luar angkasa.

Kritik keras datang dari kalangan akademisi Al-Azhar seperti Abdul-Wahid Wafi. Tafsir yang terlalu jauh dari makna teks justru merendahkan Al-Quran. Ia menjadikannya tergantung pada teori yang bisa gugur sewaktu-waktu.

Padahal, sejarah Islam menunjukkan hubungan agama dan sains yang matang. Ilmuwan Muslim klasik meneliti alam tanpa memeras ayat-ayat Al-Quran menjadi rumus fisika. Mereka memahami perbedaan bahasa wahyu dan bahasa sains.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya