Hipokrisi Moral: Mengapa Orator Kebaikan Terjungkal ke Dasar Huthamah?
Miftah yusufpati
Rabu, 28 Januari 2026 - 05:15 WIB
Sifat neraka yang mushadah atau tertutup rapat dalam tiang-tiang panjang memastikan tidak ada ventilasi maupun jalan keluar. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Jika ada gambaran yang paling menyentak dalam literatur hadits tentang neraka, itu adalah kisah tentang laki-laki yang berputar menyeret ususnya sendiri. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, memberikan gambaran satir yang luar biasa tajam. Seorang pria dilemparkan ke neraka hingga isi perutnya keluar dari rongganya, lalu ia berputar seperti keledai pemutar gandum.
Tragedi ini menjadi tontonan bagi penghuni neraka lainnya yang bertanya keheranan. Mengapa orang yang dahulu dikenal sebagai orator kebaikan, yang menyuruh pada yang makruf dan melarang yang mungkar, justru berakhir di titik paling menjijikkan? Jawabannya adalah ketiadaan integritas. "Aku menyuruh kalian berbuat makruf namun aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarangmu dari perbuatan mungkar sementara aku sendiri melakukannya," akunya di tengah rasa sakit.
Kisah ini memberikan dimensi baru pada konsep siksaan neraka: siksa karena ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan. Neraka Jahannam, dalam narasi At-Tuwaijri, memiliki sebuah bagian bernama Huthamah. Surat Al-Humazah mendeskripsikannya sebagai api Allah yang dinyalakan dan memiliki kemampuan untuk taththali’u alal af-idah—membakar menembus hingga ke ulu hati. Siksaan ini bersifat komprehensif, menyerang baik fisik maupun pusat emosi manusia.
Selain siksa internal, penghuni neraka juga mengalami kehinaan fisik yang luar biasa. Dalam surat Al-Qamar, diceritakan bagaimana para mujrimun diseret ke neraka atas muka mereka. Diseret dengan posisi kepala di bawah adalah simbol dari kehancuran martabat yang paling dasar. Mereka diseret sembari diperintahkan: "Rasakanlah sentuhan api neraka!" (dzuqu massa saqar). Keberadaan mereka di sana bukan secara sendirian, melainkan dibangkitkan bersama setan-setan (lanahsyurannahum wasy-syayathin).
Suasana suara di neraka pun tidak kalah mengerikan. Surat Al-Mulk menggambarkan suara neraka sebagai syahidan—suara mengerikan yang meledak-ledak saat neraka menggelegak. Setiap kali sekelompok orang dilemparkan, penjaga neraka melontarkan pertanyaan retoris yang menyakitkan: "Apakah belum pernah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?" Pengakuan mereka bahwa peringatan itu ada, namun didustakan, menjadi bumbu pelengkap penderitaan batin yang tiada tara.
Sifat neraka yang mu'shadah atau tertutup rapat dalam tiang-tiang panjang memastikan tidak ada ventilasi maupun jalan keluar. Bagi mereka yang celaka, tempat tinggal mereka adalah rintihan dan tarikan napas yang menyakitkan (zafir wa shahiq). At-Tuwaijri melalui karyanya ini ingin menegaskan bahwa neraka adalah sebuah realitas yang sangat aktif dalam mengeksekusi keadilan. Ia bukan sekadar konsep abstrak, melainkan tempat di mana setiap tindakan kemunafikan dan kedurhakaan dibayar dengan penderitaan yang melampaui imajinasi manusia.
Tragedi ini menjadi tontonan bagi penghuni neraka lainnya yang bertanya keheranan. Mengapa orang yang dahulu dikenal sebagai orator kebaikan, yang menyuruh pada yang makruf dan melarang yang mungkar, justru berakhir di titik paling menjijikkan? Jawabannya adalah ketiadaan integritas. "Aku menyuruh kalian berbuat makruf namun aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarangmu dari perbuatan mungkar sementara aku sendiri melakukannya," akunya di tengah rasa sakit.
Kisah ini memberikan dimensi baru pada konsep siksaan neraka: siksa karena ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan. Neraka Jahannam, dalam narasi At-Tuwaijri, memiliki sebuah bagian bernama Huthamah. Surat Al-Humazah mendeskripsikannya sebagai api Allah yang dinyalakan dan memiliki kemampuan untuk taththali’u alal af-idah—membakar menembus hingga ke ulu hati. Siksaan ini bersifat komprehensif, menyerang baik fisik maupun pusat emosi manusia.
Selain siksa internal, penghuni neraka juga mengalami kehinaan fisik yang luar biasa. Dalam surat Al-Qamar, diceritakan bagaimana para mujrimun diseret ke neraka atas muka mereka. Diseret dengan posisi kepala di bawah adalah simbol dari kehancuran martabat yang paling dasar. Mereka diseret sembari diperintahkan: "Rasakanlah sentuhan api neraka!" (dzuqu massa saqar). Keberadaan mereka di sana bukan secara sendirian, melainkan dibangkitkan bersama setan-setan (lanahsyurannahum wasy-syayathin).
Suasana suara di neraka pun tidak kalah mengerikan. Surat Al-Mulk menggambarkan suara neraka sebagai syahidan—suara mengerikan yang meledak-ledak saat neraka menggelegak. Setiap kali sekelompok orang dilemparkan, penjaga neraka melontarkan pertanyaan retoris yang menyakitkan: "Apakah belum pernah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?" Pengakuan mereka bahwa peringatan itu ada, namun didustakan, menjadi bumbu pelengkap penderitaan batin yang tiada tara.
Sifat neraka yang mu'shadah atau tertutup rapat dalam tiang-tiang panjang memastikan tidak ada ventilasi maupun jalan keluar. Bagi mereka yang celaka, tempat tinggal mereka adalah rintihan dan tarikan napas yang menyakitkan (zafir wa shahiq). At-Tuwaijri melalui karyanya ini ingin menegaskan bahwa neraka adalah sebuah realitas yang sangat aktif dalam mengeksekusi keadilan. Ia bukan sekadar konsep abstrak, melainkan tempat di mana setiap tindakan kemunafikan dan kedurhakaan dibayar dengan penderitaan yang melampaui imajinasi manusia.
(mif)