home masjid

Diplomasi Para Nabi: Saat Ulul Azmi Menyerah pada Teka-teki Kiamat

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:00 WIB
Spekulasi waktu kiamat disebut sebagai kebodohan yang menentang otoritas mutlak Allah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam labirin eskatologi Islam, tak ada teka-teki yang lebih besar daripada jam dimulainya kiamat. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil dalam karyanya, Asyraathus Saa’ah, membentangkan sebuah narasi yang sangat kuat mengenai batas nalar manusia dan bahkan nabi.

Melalui edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, al-Wabil menegaskan bahwa waktu kiamat bukan sekadar rahasia, melainkan hak prerogatif mutlak yang tidak dibagikan Allah kepada makhluk mana pun, termasuk para nabi pemimpin peradaban.

Interpretasi al-Wabil ini berpijak pada sebuah fragmen sejarah langit yang sangat dramatis. Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud yang dicatat Imam Ahmad dan Ibnu Majah, diceritakan pertemuan empat tokoh besar di malam Isra: Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Di sela-sela pertemuan agung itu, mereka berdiskusi tentang kiamat.

Hasilnya? Terjadi semacam diplomasi ketidaktahuan. Ibrahim alaihissallam menyatakan tidak memiliki ilmu tentangnya. Musa alaihissallam pun setali tiga uang. Ketika urusan itu dikembalikan kepada Isa alaihissallam, sang nabi yang diprediksi akan menjadi salah satu aktor akhir zaman itu pun menjawab dengan tegas:

أَمَّا وَجْبَتُهَا؛ فَلاَ يَعْلَمُهَا أَحَدٌ إِلاَّ اللهُ

Artinya, adapun kapan terjadinya, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah.

Isa hanya diberikan bocoran strategis tentang keluarnya Dajjal dan misinya untuk membinasakan fitnah besar tersebut, namun jam detiknya tetap menjadi misteri ilahi. Ini menunjukkan bahwa bahkan di kalangan Ulul Azmi—para rasul dengan keteguhan hati tertinggi—kiamat adalah garis batas yang tidak boleh dilangkahi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya