Perang AS-Israel vs Iran: China Bersama Negara Negara Selatan Kecam Keras Agresi Imperialis Amerika
Sururi al faruq
Kamis, 05 Maret 2026 - 10:46 WIB
Perang AS-Israel vs Iran: China Bersama Negara Negara Selatan Kecam Keras Agresi Imperialis Amerika
LANGIT7.ID-London; Serangan AS-Israel terhadap Iran mendapat kecaman luas dari negara-negara di kawasan Global South yang menilai tindakan tersebut ilegal. China dengan tegas menyatakan tidak dapat diterima "secara terang-terangan membunuh pemimpin negara berdaulat."
Banyak negara menyayangkan negosiasi antara AS dan Iran mengenai program nuklir serta kemampuan misilnya tak diberi kesempatan untuk berhasil sebelum Washington dan Israel melancarkan serangan. Para analis pun memandang perang ini sebagai bentuk praktik kekuasaan bergaya kolonial.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, seraya menegaskan bahwa hukum internasional melarang penargetan terhadap kepala negara. Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mempertanyakan pembenaran "pre-emptive" yang digunakan untuk perang ini, mengatakan bahwa pembelaan diri hanya diizinkan sebagai respons terhadap invasi bersenjata dan "tidak ada solusi militer untuk masalah yang fundamentalnya bersifat politik."
Brazil menyatakan keprihatinan mendalam, menambahkan bahwa "serangan terjadi di tengah proses negosiasi antar pihak, yang merupakan satu-satunya jalan damai yang layak."
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, mengecam serangan yang menurutnya "dihasut" oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang sehari sebelumnya menyatakan kesepakatan sudah di depan mata, berkata, "Saya mendesak AS untuk tidak terseret lebih jauh. Ini bukan perang kalian." Media setempat melaporkan, Oman menembak jatuh dua drone, sementara satu lainnya jatuh di dekat pelabuhan Salalah pada Selasa lalu.
Kuba, yang rezimnya berada di bawah tekanan signifikan dari Donald Trump, menyatakan: "Sekali lagi, AS dan Israel mengancam dan membahayakan perdamaian, stabilitas, dan keamanan regional serta internasional." Malaysia, mengecam serangan tersebut, mengatakan bahwa "perselisihan harus diselesaikan melalui dialog dan diplomasi."
Indonesia, salah satu dari sedikit negara yang mengumumkan pengiriman pasukan untuk pasukan keamanan internasional Gaza yang direncanakan oleh Dewan Perdamaian versi Trump, mengatakan "sangat menyesalkan" kegagalan negosiasi Iran – sementara presidennya menawarkan diri untuk terbang ke Teheran guna membuka kembali dialog. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah untuk menarik diri dari Dewan Perdamaian tersebut sebagai bentuk protes.
Banyak negara menyayangkan negosiasi antara AS dan Iran mengenai program nuklir serta kemampuan misilnya tak diberi kesempatan untuk berhasil sebelum Washington dan Israel melancarkan serangan. Para analis pun memandang perang ini sebagai bentuk praktik kekuasaan bergaya kolonial.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, seraya menegaskan bahwa hukum internasional melarang penargetan terhadap kepala negara. Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mempertanyakan pembenaran "pre-emptive" yang digunakan untuk perang ini, mengatakan bahwa pembelaan diri hanya diizinkan sebagai respons terhadap invasi bersenjata dan "tidak ada solusi militer untuk masalah yang fundamentalnya bersifat politik."
Brazil menyatakan keprihatinan mendalam, menambahkan bahwa "serangan terjadi di tengah proses negosiasi antar pihak, yang merupakan satu-satunya jalan damai yang layak."
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, mengecam serangan yang menurutnya "dihasut" oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang sehari sebelumnya menyatakan kesepakatan sudah di depan mata, berkata, "Saya mendesak AS untuk tidak terseret lebih jauh. Ini bukan perang kalian." Media setempat melaporkan, Oman menembak jatuh dua drone, sementara satu lainnya jatuh di dekat pelabuhan Salalah pada Selasa lalu.
Kuba, yang rezimnya berada di bawah tekanan signifikan dari Donald Trump, menyatakan: "Sekali lagi, AS dan Israel mengancam dan membahayakan perdamaian, stabilitas, dan keamanan regional serta internasional." Malaysia, mengecam serangan tersebut, mengatakan bahwa "perselisihan harus diselesaikan melalui dialog dan diplomasi."
Indonesia, salah satu dari sedikit negara yang mengumumkan pengiriman pasukan untuk pasukan keamanan internasional Gaza yang direncanakan oleh Dewan Perdamaian versi Trump, mengatakan "sangat menyesalkan" kegagalan negosiasi Iran – sementara presidennya menawarkan diri untuk terbang ke Teheran guna membuka kembali dialog. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah untuk menarik diri dari Dewan Perdamaian tersebut sebagai bentuk protes.