Tinjauan Fikih: Mengapa Umat Islam Harus Mengikuti Lafaz Takbir Sesuai Riwayat Sahabat?
Miftah yusufpati
Jum'at, 13 Maret 2026 - 03:30 WIB
Takbir Idul Fitri adalah orkestra syukur yang harus dimainkan dengan nada yang tepat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Saat matahari terakhir di bulan Ramadhan tenggelam di ufuk barat, sebuah getaran rohani mulai menjalar dari pengeras suara masjid hingga ke ruang-ruang keluarga. Takbir, kalimat pengagungan yang menggetarkan arsy, mulai berkumandang. Namun, bagi sebagian besar umat, takbir sering kali dianggap sekadar tradisi pengiring kegembiraan. Padahal, dalam kacamata fikih yang mendalam, takbir adalah syiar formal yang menandai transisi dari bulan perjuangan menuju hari kemenangan, dengan aturan waktu dan redaksi yang sangat spesifik.
Dalam risalah Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, pelaksanaan takbir bukan sekadar urusan pita suara. Ia adalah perintah yang termaktub dalam kitab suci. Merujuk pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 185:
وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Dr. Ashim menjelaskan bahwa ayat ini merupakan fondasi teologis mengapa takbir menjadi nafas utama Idul Fitri. Ia adalah pengejawantahan rasa syukur atas hidayah Allah yang telah memungkinkan seorang hamba menyelesaikan puasa satu bulan penuh. Secara interpretatif, takbir adalah pernyataan kedaulatan Tuhan di atas segala hawa nafsu yang telah ditundukkan selama Ramadhan.
Momentum dimulainya takbir memiliki batas yang tegas. Secara syar’i, kumandang agung ini dimulai sejak ditetapkan masuknya hari raya, yakni saat hilal Syawal terverifikasi atau setelah penyempurnaan bilangan tiga puluh hari Ramadhan. Periode ini berakhir tepat saat imam memulai shalat Id. Hal ini menunjukkan bahwa takbir adalah jembatan spiritual yang menghubungkan masa puasa dengan puncak ibadah di lapangan shalat. Begitu shalat dimulai, fokus batin beralih dari pengagungan lisan secara massal menuju kekhusyukan shalat yang sakral.
Namun, di tengah masyarakat, sering terjadi pergeseran budaya terkait redaksi takbir. Banyak masjid menambahkan kalimat-kalimat panjang yang puitis namun terkadang kehilangan jejak otentisitasnya. Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti memberikan catatan kritis dalam tulisannya yang diterbitkan oleh IslamHouse tersebut. Beliau menekankan bahwa yang terbaik adalah mengikuti lafaz takbir yang memiliki riwayat valid dari para sahabat Nabi Radhiyallah anhum.
Dalam risalah Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, pelaksanaan takbir bukan sekadar urusan pita suara. Ia adalah perintah yang termaktub dalam kitab suci. Merujuk pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 185:
وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Dr. Ashim menjelaskan bahwa ayat ini merupakan fondasi teologis mengapa takbir menjadi nafas utama Idul Fitri. Ia adalah pengejawantahan rasa syukur atas hidayah Allah yang telah memungkinkan seorang hamba menyelesaikan puasa satu bulan penuh. Secara interpretatif, takbir adalah pernyataan kedaulatan Tuhan di atas segala hawa nafsu yang telah ditundukkan selama Ramadhan.
Momentum dimulainya takbir memiliki batas yang tegas. Secara syar’i, kumandang agung ini dimulai sejak ditetapkan masuknya hari raya, yakni saat hilal Syawal terverifikasi atau setelah penyempurnaan bilangan tiga puluh hari Ramadhan. Periode ini berakhir tepat saat imam memulai shalat Id. Hal ini menunjukkan bahwa takbir adalah jembatan spiritual yang menghubungkan masa puasa dengan puncak ibadah di lapangan shalat. Begitu shalat dimulai, fokus batin beralih dari pengagungan lisan secara massal menuju kekhusyukan shalat yang sakral.
Namun, di tengah masyarakat, sering terjadi pergeseran budaya terkait redaksi takbir. Banyak masjid menambahkan kalimat-kalimat panjang yang puitis namun terkadang kehilangan jejak otentisitasnya. Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti memberikan catatan kritis dalam tulisannya yang diterbitkan oleh IslamHouse tersebut. Beliau menekankan bahwa yang terbaik adalah mengikuti lafaz takbir yang memiliki riwayat valid dari para sahabat Nabi Radhiyallah anhum.