home masjid

Mandi dan Pakaian Terbaik Merupakan Sunnah Utama Sambut Idul Fitri

Jum'at, 13 Maret 2026 - 04:00 WIB
Mandi dan berpakaian indah di hari Idul Fitri adalah sebuah pernyataan bahwa Islam adalah agama yang mencintai keindahan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pagi hari di tanggal satu Syawal selalu menghadirkan atmosfer yang berbeda. Di balik keriuhan dapur dan gema takbir, ada sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dalam memori kolektif umat Muslim: ritual mandi pagi dan mengenakan pakaian terbaik. Namun, bagi mereka yang mendalami literatur fikih, tindakan ini bukan sekadar upaya tampil necis di hadapan kerabat. Ia adalah bagian dari adab tinggi yang diwariskan oleh tradisi kenabian, sebuah simbolisasi dari pembersihan total setelah sebulan penuh menempa diri di madrasah Ramadhan.

Dalam risalah Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, disebutkan bahwa mempersiapkan fisik sebelum berangkat ke lapangan shalat adalah salah satu sunnah yang sangat ditekankan. Mandi sebelum shalat Id bukan sekadar urusan kebersihan badan dari keringat, melainkan sebuah tindakan ibadah (ghusl) yang memiliki landasan sejarah kuat dari para sahabat Nabi. Tradisi ini mencerminkan betapa Islam sangat memperhatikan harmoni antara kesucian jiwa dan keelokan rupa saat menghadap Sang Pencipta dalam sebuah perkumpulan massal.

Secara interpretatif, mandi di pagi Idul Fitri adalah sebuah dekonstruksi atas kelelahan fisik selama Ramadhan. Jika selama sebulan tubuh terasa lemas karena menahan lapar, maka siraman air di pagi Syawal menjadi simbolisasi kesegaran baru (fitrah). Ulama dunia seperti Imam an-Nawawi dalam Al Majmu Syarh al Muhadzdzab menyebutkan bahwa hikmah dari mandi ini adalah agar kaum Muslimin berkumpul dalam keadaan bersih dan tidak mengganggu orang lain dengan bau badan yang tidak sedap. Ini adalah bentuk etika sosial yang dibalut dalam bingkai teologis.

Selain mandi, mengenakan pakaian terbaik dan wangi-wangian (bagi pria) menjadi pelengkap estetika Idul Fitri. Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti dalam tulisannya yang diterbitkan oleh IslamHouse menekankan bahwa mengenakan pakaian terbaik adalah bentuk tahadduts bin ni'mah atau menampakkan nikmat Allah. Hal ini didasarkan pada atsar dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, yang dikenal sangat teliti dalam meniru detail perilaku Rasulullah. Ibnu Umar dikisahkan selalu mengenakan pakaian paling bagus yang dimilikinya saat hari raya.

Namun, ada sebuah catatan penting yang sering kali luput dari perhatian masyarakat modern yang terjebak dalam arus konsumerisme. Pakaian terbaik tidaklah selalu identik dengan pakaian baru atau merek mahal. Esensi dari sunnah ini adalah kerapian, kebersihan, dan kepantasan. Islam ingin menunjukkan bahwa pada hari raya, umatnya tampil sebagai representasi keindahan agama yang teratur. Penggunaan wangi-wangian bagi pria juga berfungsi serupa, yakni menciptakan suasana lingkungan yang nyaman bagi sesama jamaah yang bersujud berdampingan di lapangan terbuka.

Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kecintaan Nabi terhadap kebersihan dan aroma harum saat hari raya merupakan bagian dari penghormatan terhadap malaikat yang hadir di tempat shalat. Oleh karena itu, persiapan fisik ini dipandang sebagai bentuk pemuliaan terhadap sakralitas hari tersebut. Idul Fitri adalah hari perjamuan Tuhan, dan setiap tamu sudah selayaknya tampil dalam kondisi paling prima dan suci.

Fenomena baju baru yang mendarah daging di Nusantara dapat ditarik benang merahnya ke arah sunnah ini, selama tidak terjatuh pada sikap pamer (riya) atau berlebih-lebihan (israf). Islam menyeimbangkan antara kebutuhan estetika manusiawi dengan batasan moral agama. Pakaian terbaik haruslah didapatkan dengan cara yang halal dan dikenakan dengan hati yang rendah hati. Ketampanan lahiriah harus selaras dengan ketampanan batiniah yang baru saja diasah melalui puasa dan zakat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya