Fadli Zon Dorong Penguatan Museum Song Terus sebagai Pusat Edukasi Prasejarah
Tim langit 7
Sabtu, 28 Maret 2026 - 11:52 WIB
Fadli Zon Dorong Penguatan Museum Song Terus sebagai Pusat Edukasi Prasejarah
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon melakukan peninjauan ke Museum Song Terus yang terletak di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Museum ini merupakan pusat informasi prasejarah yang menampilkan berbagai hasil temuan arkeologi dari kawasan Goa Song Terus, yang merekam jejak kehidupan manusia purba di wilayah selatan Jawa.
Dalam peninjauan tersebut, Menteri Kebudayaan menekankan pentingnya pengembangan Museum Song Terus sebagai pusat edukasi dan kebudayaan yang mampu menghadirkan narasi utuh perjalanan peradaban manusia di Nusantara. Dirinya menjelaskan bahwa kawasan Song Terus menyimpan bukti penting kesinambungan kehidupan manusia, dengan temuan budaya yang diperkirakan mencapai usia hingga 300.000 tahun, serta temuan manusia prasejarah seperti Mbah Sayem yang berusia sekitar 8.500 tahun.
Penelitian di kawasan ini, lanjutnya, telah berlangsung sejak lama dan melibatkan berbagai peneliti, mulai dari masa kolonial seperti Von Koenigswald hingga arkeolog Indonesia, termasuk R.P. Suyono. Seluruh hasil penelitian tersebut kini dihadirkan kepada publik melalui Museum Song Terus dalam bentuk narasi edukatif yang mudah dipahami. “Di museum ini kita bisa menyaksikan satu rangkaian perjalanan peradaban manusia di Pacitan, dari awal hingga manusia modern seperti sekarang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (28/3/2026).
Menbud Fadli Zon juga menilai bahwa penguatan fungsi museum perlu terus dilakukan melalui penyediaan fasilitas yang mendukung pengalaman belajar masyarakat, termasuk auditorium, pemutaran film 3D, serta ruang pertunjukan seni budaya. “Ini bukan hanya tempat penyimpanan artefak, tetapi juga pusat edukasi dan literasi budaya yang sangat penting,” tambahnya.
Museum Song Terus dibangun untuk mengangkat hasil penelitian arkeologi di kawasan karst Pacitan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Situs ini dikenal sebagai salah satu lokasi penting dalam kajian prasejarah di Indonesia, dengan temuan berupa alat batu, sisa fauna, serta bukti aktivitas manusia yang menunjukkan keberlanjutan hunian dalam jangka waktu panjang. Kawasan ini juga merupakan bagian dari bentang alam karst Gunung Sewu yang memiliki nilai penting secara ilmiah dan budaya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Wawan Yogaswara.
Menutup kunjungannya, Menteri Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan Museum Song Terus sebagai pusat edukasi dan kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. Dirinya berharap museum ini dapat menjadi salah satu kantong budaya yang aktif, tidak hanya dalam pelestarian, tetapi juga dalam pemanfaatan warisan budaya sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat luas.
Dalam peninjauan tersebut, Menteri Kebudayaan menekankan pentingnya pengembangan Museum Song Terus sebagai pusat edukasi dan kebudayaan yang mampu menghadirkan narasi utuh perjalanan peradaban manusia di Nusantara. Dirinya menjelaskan bahwa kawasan Song Terus menyimpan bukti penting kesinambungan kehidupan manusia, dengan temuan budaya yang diperkirakan mencapai usia hingga 300.000 tahun, serta temuan manusia prasejarah seperti Mbah Sayem yang berusia sekitar 8.500 tahun.
Penelitian di kawasan ini, lanjutnya, telah berlangsung sejak lama dan melibatkan berbagai peneliti, mulai dari masa kolonial seperti Von Koenigswald hingga arkeolog Indonesia, termasuk R.P. Suyono. Seluruh hasil penelitian tersebut kini dihadirkan kepada publik melalui Museum Song Terus dalam bentuk narasi edukatif yang mudah dipahami. “Di museum ini kita bisa menyaksikan satu rangkaian perjalanan peradaban manusia di Pacitan, dari awal hingga manusia modern seperti sekarang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (28/3/2026).
Menbud Fadli Zon juga menilai bahwa penguatan fungsi museum perlu terus dilakukan melalui penyediaan fasilitas yang mendukung pengalaman belajar masyarakat, termasuk auditorium, pemutaran film 3D, serta ruang pertunjukan seni budaya. “Ini bukan hanya tempat penyimpanan artefak, tetapi juga pusat edukasi dan literasi budaya yang sangat penting,” tambahnya.
Museum Song Terus dibangun untuk mengangkat hasil penelitian arkeologi di kawasan karst Pacitan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Situs ini dikenal sebagai salah satu lokasi penting dalam kajian prasejarah di Indonesia, dengan temuan berupa alat batu, sisa fauna, serta bukti aktivitas manusia yang menunjukkan keberlanjutan hunian dalam jangka waktu panjang. Kawasan ini juga merupakan bagian dari bentang alam karst Gunung Sewu yang memiliki nilai penting secara ilmiah dan budaya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Wawan Yogaswara.
Menutup kunjungannya, Menteri Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan Museum Song Terus sebagai pusat edukasi dan kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. Dirinya berharap museum ini dapat menjadi salah satu kantong budaya yang aktif, tidak hanya dalam pelestarian, tetapi juga dalam pemanfaatan warisan budaya sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat luas.
(lam)