Operasi Senyap Pasca-Rasulullah: Jejak Makar dan Infiltrasi di Jantung Kekhilafahan
Miftah yusufpati
Ahad, 05 April 2026 - 06:15 WIB
Permusuhan Yahudi terhadap Islam bersifat permanen dan adaptif. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Bagi komunitas Yahudi di masa awal Islam, keberadaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah dinding tebal yang tak tertembus. Karisma dan bimbingan wahyu yang melekat pada beliau menutup rapat celah makar. Namun, sejarah mencatat babak baru yang kelam segera setelah fajar kenabian itu surut. Wafatnya Rasulullah dipandang sebagai momentum emas untuk menjalankan skenario memalingkan kaum muslimin dari agamanya dengan cara yang lebih rapi, terstruktur, dan mematikan.
Tipu daya ini tidak lagi dilakukan lewat konfrontasi terbuka di medan laga, melainkan melalui infiltrasi ke dalam struktur sosial dan pemikiran. Kehilangan figur sentral pemersatu, akumulasi pengalaman dari kegagalan masa lalu, hingga taktik "pura-pura beriman" untuk menjadi mata-mata, menjadi modal utama mereka. Penelusuran literatur sejarah mengungkap tiga fragmen besar yang menjadi tonggak keberhasilan makar ini.
Prahara di Rumah Sang Dzun Nurain
Pintu fitnah pertama terbuka lebar melalui peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu. Di balik kekacauan sosiopolitik itu, muncul nama Abdullah bin Saba, atau yang dikenal sebagai Ibnu Sauda. Tokoh Yahudi asal Yaman ini melakukan infiltrasi dengan jubah keislaman, lalu menyebarkan doktrin ekstrem yang memuja Ali bin Abi Thalib secara berlebihan sembari menghasut massa untuk membenci Utsman.
Inilah awal mula perpecahan internal yang melahirkan sekte-sekte menyimpang. Strategi Ibnu Saba berhasil menciptakan "bola salju" kekacauan yang puncaknya adalah tumpahnya darah sang khalifah di atas mushaf al-Quran. Sejarah mencatat, luka ini menjadi titik awal disintegrasi umat yang dampaknya masih terasa hingga milenium ketiga.
Sekte Bathiniyah: Perang di Wilayah Pemikiran
Keberhasilan Ibnu Saba memicu keberanian tokoh Yahudi lainnya. Pada tahun 276 Hijriah, muncul sosok Maimun bin Dishan al-Qadah di Kufah. Ia merupakan arsitek di balik berdirinya sekte Bathiniyah, sebuah gerakan esoteris yang mengajarkan bahwa syariat memiliki makna batin yang hanya diketahui segelintir orang.
Tipu daya ini tidak lagi dilakukan lewat konfrontasi terbuka di medan laga, melainkan melalui infiltrasi ke dalam struktur sosial dan pemikiran. Kehilangan figur sentral pemersatu, akumulasi pengalaman dari kegagalan masa lalu, hingga taktik "pura-pura beriman" untuk menjadi mata-mata, menjadi modal utama mereka. Penelusuran literatur sejarah mengungkap tiga fragmen besar yang menjadi tonggak keberhasilan makar ini.
Prahara di Rumah Sang Dzun Nurain
Pintu fitnah pertama terbuka lebar melalui peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu. Di balik kekacauan sosiopolitik itu, muncul nama Abdullah bin Saba, atau yang dikenal sebagai Ibnu Sauda. Tokoh Yahudi asal Yaman ini melakukan infiltrasi dengan jubah keislaman, lalu menyebarkan doktrin ekstrem yang memuja Ali bin Abi Thalib secara berlebihan sembari menghasut massa untuk membenci Utsman.
Inilah awal mula perpecahan internal yang melahirkan sekte-sekte menyimpang. Strategi Ibnu Saba berhasil menciptakan "bola salju" kekacauan yang puncaknya adalah tumpahnya darah sang khalifah di atas mushaf al-Quran. Sejarah mencatat, luka ini menjadi titik awal disintegrasi umat yang dampaknya masih terasa hingga milenium ketiga.
Sekte Bathiniyah: Perang di Wilayah Pemikiran
Keberhasilan Ibnu Saba memicu keberanian tokoh Yahudi lainnya. Pada tahun 276 Hijriah, muncul sosok Maimun bin Dishan al-Qadah di Kufah. Ia merupakan arsitek di balik berdirinya sekte Bathiniyah, sebuah gerakan esoteris yang mengajarkan bahwa syariat memiliki makna batin yang hanya diketahui segelintir orang.