Sosok Abdullah bin Saba: Aktor di Balik Tragedi Pembunuhan Khalifah Utsman
Miftah yusufpati
Senin, 06 April 2026 - 04:30 WIB
Fitnah pembunuhan Utsman adalah monumen peringatan tentang betapa mahalnya harga sebuah persatuan dan betapa mematikannya racun provokasi yang dibungkus dengan narasi agama. AI
LANGIT7.ID-Sejarah Islam mencatat sebuah titik balik kelam yang dikenal sebagai al-Fitnatul Kubra atau Fitnah Besar. Peristiwa ini bukan sekadar pemberontakan sipil terhadap penguasa, melainkan sebuah skenario destruktif yang dirancang dengan sangat rapi. Di balik keriuhan massa yang mengepung rumah Khalifah Utsman bin Affan di Madinah, terdapat satu nama yang menjadi bayang-bayang hitam dalam narasi sejarah: Abdullah bin Saba.
Sosok yang dikenal dengan julukan Ibnu Sauda ini merupakan seorang Yahudi asal Yaman yang memeluk Islam secara lahiriah pada masa kepemimpinan Utsman. Namun, masuknya ia ke dalam barisan kaum muslimin bukan didorong oleh hidayah, melainkan sebuah misi infiltrasi untuk merusak tatanan Islam dari dalam. Strategi yang ia gunakan sangat metodis: ia tidak menyerang Islam dari luar, melainkan menciptakan kegaduhan teologis dan politik di internal umat.
Analisis sejarah menunjukkan bahwa Ibnu Saba memulai gerakannya dari pusat-pusat intelektual dan ekonomi saat itu, mulai dari Hijaz, Bashrah, Kufah, hingga akhirnya menemukan tanah subur di Mesir. Ia mengeksploitasi kebijakan-kebijakan administratif Utsman yang sering kali difitnah sebagai praktik nepotisme. Padahal, sebagaimana dicatat oleh Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi dalam karyanya, Biografi Utsman bin Affan, sang khalifah justru tengah melakukan konsolidasi pemerintahan yang luas.
Gaya provokasi Ibnu Saba sangat licin. Ia mulai menyebarkan doktrin-doktrin asing yang tidak dikenal sebelumnya dalam Islam. Salah satunya adalah pemikiran tentang "raj'ah" atau kembalinya nabi ke dunia, serta doktrin "washiyat" yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerima wasiat sah kenabian yang haknya dirampas. Upaya deifikasi atau pengkultusan terhadap Ali ini dilakukan untuk menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. Dengan narasi yang seolah-olah membela keluarga nabi (Ahlul Bait), ia berhasil menarik simpati massa yang kurang memiliki pemahaman agama yang mendalam.
Dalam pandangan teologis, upaya Ibnu Saba ini selaras dengan peringatan dalam Al-Qur'an mengenai karakter permusuhan kaum Yahudi terhadap kaum beriman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah al-Maidah ayat 82:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
Sosok yang dikenal dengan julukan Ibnu Sauda ini merupakan seorang Yahudi asal Yaman yang memeluk Islam secara lahiriah pada masa kepemimpinan Utsman. Namun, masuknya ia ke dalam barisan kaum muslimin bukan didorong oleh hidayah, melainkan sebuah misi infiltrasi untuk merusak tatanan Islam dari dalam. Strategi yang ia gunakan sangat metodis: ia tidak menyerang Islam dari luar, melainkan menciptakan kegaduhan teologis dan politik di internal umat.
Analisis sejarah menunjukkan bahwa Ibnu Saba memulai gerakannya dari pusat-pusat intelektual dan ekonomi saat itu, mulai dari Hijaz, Bashrah, Kufah, hingga akhirnya menemukan tanah subur di Mesir. Ia mengeksploitasi kebijakan-kebijakan administratif Utsman yang sering kali difitnah sebagai praktik nepotisme. Padahal, sebagaimana dicatat oleh Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi dalam karyanya, Biografi Utsman bin Affan, sang khalifah justru tengah melakukan konsolidasi pemerintahan yang luas.
Gaya provokasi Ibnu Saba sangat licin. Ia mulai menyebarkan doktrin-doktrin asing yang tidak dikenal sebelumnya dalam Islam. Salah satunya adalah pemikiran tentang "raj'ah" atau kembalinya nabi ke dunia, serta doktrin "washiyat" yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerima wasiat sah kenabian yang haknya dirampas. Upaya deifikasi atau pengkultusan terhadap Ali ini dilakukan untuk menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. Dengan narasi yang seolah-olah membela keluarga nabi (Ahlul Bait), ia berhasil menarik simpati massa yang kurang memiliki pemahaman agama yang mendalam.
Dalam pandangan teologis, upaya Ibnu Saba ini selaras dengan peringatan dalam Al-Qur'an mengenai karakter permusuhan kaum Yahudi terhadap kaum beriman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah al-Maidah ayat 82:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.