home global news

Optimalisasi Limbah Sawit Mampu Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional

Ahad, 12 April 2026 - 15:16 WIB
Optimalisasi Limbah Sawit Mampu Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional
LANGIT7.ID-Jakarta; Optimalisasi pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dinilai dapat menjadi strategi nyata untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap pupuk kimia impor sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional. LCPKS seharusnya tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber nutrisi strategis yang dapat dikembalikan ke sistem produksi pertanian.

Pakar ilmu tanah dari IPB University, Dr. Basuki Sumawinata, mengungkapkan, dengan produksi 50 juta ton minyak sawit, Indonesia menghasilkan sekitar 100 juta ton LCPKS per tahun dengan nilai Biological Oxygen Demand (BOD) rata-rata 25.000 ppm. BOD merupakan ukuran jumlah oksigen terlarut yang digunakan oleh mikroorganisme dalam penguraian bahan organik.

’’Jika dikelola dengan pendekatan ilmiah yang tepat, limbah tersebut berpotensi menggantikan sebagian kebutuhan pupuk kimia yang selama ini masih bergantung pada impor. LCPKS mengandung unsur hara lengkap seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium hingga unsur mikro. Ini adalah sumber nutrisi alami yang nilainya sangat besar bagi kebun sawit,” ujar Basuki dalam keterangannya.

Basuki menjelaskan bahwa kandungan bahan organik yang tinggi menjadikan LCPKS sebagai sumber karbon organik utama bagi tanah. Tanpa bahan organik yang cukup, tanah kehilangan daya dukung biologisnya dan produktivitas kebun dalam jangka panjang akan menurun. Akibatnya, petani maupun perusahaan perkebunan semakin bergantung pada pupuk kimia.

Karena itu, Basuki menilai kebijakan pengolahan LCPKS hingga mencapai standar sangat rendah, seperti BOD di bawah 100 mg/l, justru berpotensi menghilangkan manfaat ekonominya. Pada kondisi tersebut, hampir seluruh karbon organik telah hilang sehingga LCPKS tidak lagi berfungsi sebagai pupuk organik.

’’Jika diterapkan (BOD di bawah 100 mg/l) pada seluruh LCPKS di Indonesia maka hal itu dapat dipandang sebagai pemborosan uang negara karena hampir seluruh kebutuhan pupuk di Indonesia berasal dari pupuk impor,’’ katanya. Ia menilai pendekatan tersebut berlawanan dengan prinsip ekonomi sirkular yang seharusnya mendorong pemanfaatan kembali nutrisi dalam sistem produksi.

Meski LCPKS dengan BOD di bawah 100 mg/l tampak jernih, bukan berarti aman. Cairan ini masih bisa mengandung amonia atau nitrat yang berbahaya bagi makhluk hidup di sungai. Apalagi jika air sungai tidak cukup banyak untuk mengencerkan limbah, maka dapat terjadi keracunan pada biota air.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya