Halal Bihalal Bukan Sekadar Tradisi, Muhadjir Effendy Jelaskan Mengapa Saling Memaafkan Itu Wajib
Tim langit 7
Selasa, 21 April 2026 - 08:05 WIB
Halal Bihalal Bukan Sekadar Tradisi, Muhadjir Effendy Jelaskan Mengapa Saling Memaafkan Itu Wajib
LANGIT7.ID-Jakarta; Pengampunan Allah Swt terbuka lebar bagi hamba-Nya yang menjalankan puasa Ramadan dengan penuh keimanan. Namun ada satu kategori dosa yang tidak bisa begitu saja terhapus oleh ampunan Ilahi — yakni kesalahan terhadap sesama manusia.
Hal itu ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat hadir dalam Silaturahmi Syawal 1447 H dan Halal Bihalal PWM Banten pada Ahad (19/4). Menurutnya, dosa yang bersifat transenden relatif lebih mudah diselesaikan karena Allah Swt Maha Pengampun. Berbeda halnya dengan kesalahan antarsesama.
"Barang siapa melaksanakan puasa dengan iman dan iktisab. Iktisab itu penuh perhitungan, maka dosanya yang masa lalu seakan-akan diampuni oleh Allah. Masalahnya adalah Allah itu tidak akan menghapus dosa hambanya yang kesalahannya itu dibuka dengan dengan sesama manusia," ungkap Muhadjir dilasnir dari situs Muhammadiyah, Selasa (21/4/2026).
Karena itulah, Muhadjir menekankan pentingnya tradisi Halal Bihalal yang lazim digelar pada Bulan Syawal. Momentum ini dinilai sebagai ruang strategis untuk membangun kembali hubungan antarsesama sekaligus saling meminta maaf.
"Jadi kesalahan itu akan dihapus dosanya oleh Allah kalau yang bersangkutan saling memaafkan. Maka itulah pentingnya halal bihalal dijadikan momentum untuk mendamaikan, saling memaafkan sesama kita," imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Muhadjir mengajak seluruh peserta untuk memperbanyak permohonan maaf, baik kepada Allah Swt maupun kepada sesama manusia.
Tradisi Halal Bihalal sendiri merupakan kekhasan budaya keagamaan Indonesia yang tidak ditemukan di Arab. Muhadjir menyebut, tradisi ini pertama kali dipopulerkan oleh Muhammadiyah sebagai wadah membangun kohesi sosial.
Hal itu ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat hadir dalam Silaturahmi Syawal 1447 H dan Halal Bihalal PWM Banten pada Ahad (19/4). Menurutnya, dosa yang bersifat transenden relatif lebih mudah diselesaikan karena Allah Swt Maha Pengampun. Berbeda halnya dengan kesalahan antarsesama.
"Barang siapa melaksanakan puasa dengan iman dan iktisab. Iktisab itu penuh perhitungan, maka dosanya yang masa lalu seakan-akan diampuni oleh Allah. Masalahnya adalah Allah itu tidak akan menghapus dosa hambanya yang kesalahannya itu dibuka dengan dengan sesama manusia," ungkap Muhadjir dilasnir dari situs Muhammadiyah, Selasa (21/4/2026).
Karena itulah, Muhadjir menekankan pentingnya tradisi Halal Bihalal yang lazim digelar pada Bulan Syawal. Momentum ini dinilai sebagai ruang strategis untuk membangun kembali hubungan antarsesama sekaligus saling meminta maaf.
"Jadi kesalahan itu akan dihapus dosanya oleh Allah kalau yang bersangkutan saling memaafkan. Maka itulah pentingnya halal bihalal dijadikan momentum untuk mendamaikan, saling memaafkan sesama kita," imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Muhadjir mengajak seluruh peserta untuk memperbanyak permohonan maaf, baik kepada Allah Swt maupun kepada sesama manusia.
Tradisi Halal Bihalal sendiri merupakan kekhasan budaya keagamaan Indonesia yang tidak ditemukan di Arab. Muhadjir menyebut, tradisi ini pertama kali dipopulerkan oleh Muhammadiyah sebagai wadah membangun kohesi sosial.