KAI Dorong Lompatan Logistik Nasional, Perkuat Integrasi Rel melalui Dryport KEK Industropolis Batang
Dwi sasongko
Selasa, 21 April 2026 - 15:03 WIB
KAI Dorong Lompatan Logistik Nasional, Perkuat Integrasi Rel melalui Dryport KEK Industropolis Batang
LANGIT7.ID-Jakarta; PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama PT Kawasan Industri Terpadu Batang, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda), dan Perumda Aneka Usaha Kabupaten Batang menandatangani Nota Kesepahaman untuk pengembangan logistik berbasis rel di Dryport Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Selasa (21/4).
Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun sistem logistik yang lebih terintegrasi, sekaligus menjawab tantangan biaya logistik nasional yang masih tinggi. Dengan pendekatan berbasis rel, distribusi barang diharapkan menjadi lebih efisien, terukur, dan kompetitif.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa pengembangan dryport di Batang menjadi bagian dari arah besar pembangunan ekosistem logistik nasional yang terintegrasi dari kawasan industri hingga ke pelabuhan.
“Di Batang ini akan tumbuh kawasan industri yang terhubung dengan kota mandiri. KAI hadir sebagai pengangkut dari dryport menuju pelabuhan, dan di ujungnya Pelindo memastikan konektivitas ke pasar global. Dengan integrasi ini, kita dorong biaya logistik turun dan lebih kompetitif,” ujar Bobby dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan bahwa saat ini biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 15% hingga di atas 20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara standar global berada di kisaran 7–8%. Kondisi ini menjadi ruang perbaikan yang besar bagi peningkatan daya saing industri nasional.
“Kalau kita bisa menurunkan biaya logistik secara signifikan, maka biaya produksi industri juga akan ikut turun. Dampaknya langsung terasa pada daya saing produk Indonesia di pasar global,” lanjut Bobby.
Upaya tersebut diperkuat dengan strategi peningkatan kapasitas angkutan. KAI saat ini mengoperasikan gerbong dengan kapasitas rata-rata 50 ton per gerbong, dan sedang ditingkatkan menjadi 70 ton. Dengan satu rangkaian hingga 60 gerbong, kapasitas angkut dapat mencapai 4.200 ton dalam satu perjalanan.
Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun sistem logistik yang lebih terintegrasi, sekaligus menjawab tantangan biaya logistik nasional yang masih tinggi. Dengan pendekatan berbasis rel, distribusi barang diharapkan menjadi lebih efisien, terukur, dan kompetitif.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa pengembangan dryport di Batang menjadi bagian dari arah besar pembangunan ekosistem logistik nasional yang terintegrasi dari kawasan industri hingga ke pelabuhan.
“Di Batang ini akan tumbuh kawasan industri yang terhubung dengan kota mandiri. KAI hadir sebagai pengangkut dari dryport menuju pelabuhan, dan di ujungnya Pelindo memastikan konektivitas ke pasar global. Dengan integrasi ini, kita dorong biaya logistik turun dan lebih kompetitif,” ujar Bobby dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan bahwa saat ini biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 15% hingga di atas 20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara standar global berada di kisaran 7–8%. Kondisi ini menjadi ruang perbaikan yang besar bagi peningkatan daya saing industri nasional.
“Kalau kita bisa menurunkan biaya logistik secara signifikan, maka biaya produksi industri juga akan ikut turun. Dampaknya langsung terasa pada daya saing produk Indonesia di pasar global,” lanjut Bobby.
Upaya tersebut diperkuat dengan strategi peningkatan kapasitas angkutan. KAI saat ini mengoperasikan gerbong dengan kapasitas rata-rata 50 ton per gerbong, dan sedang ditingkatkan menjadi 70 ton. Dengan satu rangkaian hingga 60 gerbong, kapasitas angkut dapat mencapai 4.200 ton dalam satu perjalanan.