Rumah Tua Tradisional di Maluku, Tahan Gempa dan Tak Mudah Rusak
Fajar adhitya
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 20:45 WIB
Rumah tua tradisional di Maluku. (Foto: Antara).
Rumah tua tradisional di Maluku pada masa lalu dinilai tahan gempa dan tidak rusak selama bertahun-tahun. Padahal konstruksinya dibangun dengan bahan baku seadanya.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Maluku, Muhijaty Tuanaya mengatakan, bangunan rumah tua memang sudah terbukti tahan gempa. Saat gempa bumi 2019 lalu, bangunan yang roboh berbahan batako dan semen.
"Sementara rumah-rumah tua tradisional tetap bertahan dan tidak rusak akibat goncangan gempa," kata Ketua IAI Maluku, Muhijaty Tuanaya, di Ambon.
Muhijaty yang juga Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Provinsi Maluku mengatakan rumah tradisional di Maluku yang lebih sering disebut dengan "rumah tua" memiliki teknik arsitektur khusus dalam pembangunannya.
Struktur bangunan, bahan baku yang digunakan hingga sistem pembangunan rumah tua berbeda dengan rumah masa kini. Rata-rata bangunan-bangunan tersebut berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang didirikan sejak era kolonial tapi masih bertahan hingga sekarang karena hanya direnovasi tanpa mengubah struktur aslinya.
Dia mencontohkan "Rumah Lating Batu" di Desa Hila dan rumah raja Hitu di Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Kedua bangunan itu telah ada sejak era penjajahan Hindia-Belanda.
Rumah Lating Batu bahkan disebut-sebut sebagai salah satu bangunan tua yang mampu bertahan ketika terjadi gempa besar yang menyebabkan tsunami pada 1674.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Maluku, Muhijaty Tuanaya mengatakan, bangunan rumah tua memang sudah terbukti tahan gempa. Saat gempa bumi 2019 lalu, bangunan yang roboh berbahan batako dan semen.
"Sementara rumah-rumah tua tradisional tetap bertahan dan tidak rusak akibat goncangan gempa," kata Ketua IAI Maluku, Muhijaty Tuanaya, di Ambon.
Muhijaty yang juga Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Provinsi Maluku mengatakan rumah tradisional di Maluku yang lebih sering disebut dengan "rumah tua" memiliki teknik arsitektur khusus dalam pembangunannya.
Struktur bangunan, bahan baku yang digunakan hingga sistem pembangunan rumah tua berbeda dengan rumah masa kini. Rata-rata bangunan-bangunan tersebut berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang didirikan sejak era kolonial tapi masih bertahan hingga sekarang karena hanya direnovasi tanpa mengubah struktur aslinya.
Dia mencontohkan "Rumah Lating Batu" di Desa Hila dan rumah raja Hitu di Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Kedua bangunan itu telah ada sejak era penjajahan Hindia-Belanda.
Rumah Lating Batu bahkan disebut-sebut sebagai salah satu bangunan tua yang mampu bertahan ketika terjadi gempa besar yang menyebabkan tsunami pada 1674.