Temuan Baru Tafsir Al-Quran: Sosok Azar Diduga Paman, Bukan Ayah Biologis Ibrahim
Miftah yusufpati
Senin, 11 Mei 2026 - 15:30 WIB
Azar tetaplah sosok paman yang dihormati secara kemanusiaan di masa muda, namun ditinggalkan secara ideologis ketika jelas-jelas memilih jalan kekafiran. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dalam sejarah panjang pencarian Tuhan, sosok Ibrahim berdiri sebagai mercusuar tauhid yang kokoh. Namun, sebuah fragmen dalam kitab suci menyisakan tanda tanya besar bagi para pengkaji sejarah dan mufasir: siapakah sesungguhnya Azar? Selama berabad-abad, banyak yang meyakini Azar adalah ayah kandung Ibrahim. Namun, ayat-ayat Al-Quran membuka tabir kemungkinan lain yang lebih masuk akal secara logis maupun teologis.
Ja'far Subhani dalam bukunya, Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, pada halaman 50-69, membedah dikotomi sosok Azar ini dengan sangat tajam. Perdebatan ini bermula ketika kaum muslimin di Arabia merasa sedih atas nasib nenek moyang mereka yang wafat dalam keadaan musyrik. Mereka memohon kepada Nabi Muhammad agar diperbolehkan mendoakan ampunan bagi para pendahulu tersebut, sebagaimana Ibrahim mendoakan Azar.
Jawaban atas permohonan itu tertuang dalam Surah At-Taubah ayat 113-114. Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak sepatutnya nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun bagi orang musyrik, meskipun kerabat sendiri. Mengenai doa Ibrahim untuk Azar, Al-Quran menjelaskan bahwa itu hanyalah pemenuhan janji semata. Bunyi ayat tersebut adalah:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ
Ma kana lin-nabiyyi wal-ladzina amanu ay yastaghfiru lil-musyrikina walau kanu uli qurba.
Artinya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang musyrik, walaupun orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya.
Ayat ini mempertegas bahwa begitu Ibrahim menyadari Azar adalah musuh Allah, ia segera berlepas diri atau tabarra. Pemutusan hubungan ini terjadi saat Ibrahim masih muda, ketika beliau masih berada di Babilonia. Sejak saat itu, Ibrahim tidak lagi berkomunikasi, tidak peduli, dan berhenti mendoakan keselamatan bagi Azar.
Ja'far Subhani dalam bukunya, Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, pada halaman 50-69, membedah dikotomi sosok Azar ini dengan sangat tajam. Perdebatan ini bermula ketika kaum muslimin di Arabia merasa sedih atas nasib nenek moyang mereka yang wafat dalam keadaan musyrik. Mereka memohon kepada Nabi Muhammad agar diperbolehkan mendoakan ampunan bagi para pendahulu tersebut, sebagaimana Ibrahim mendoakan Azar.
Jawaban atas permohonan itu tertuang dalam Surah At-Taubah ayat 113-114. Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak sepatutnya nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun bagi orang musyrik, meskipun kerabat sendiri. Mengenai doa Ibrahim untuk Azar, Al-Quran menjelaskan bahwa itu hanyalah pemenuhan janji semata. Bunyi ayat tersebut adalah:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ
Ma kana lin-nabiyyi wal-ladzina amanu ay yastaghfiru lil-musyrikina walau kanu uli qurba.
Artinya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang musyrik, walaupun orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya.
Ayat ini mempertegas bahwa begitu Ibrahim menyadari Azar adalah musuh Allah, ia segera berlepas diri atau tabarra. Pemutusan hubungan ini terjadi saat Ibrahim masih muda, ketika beliau masih berada di Babilonia. Sejak saat itu, Ibrahim tidak lagi berkomunikasi, tidak peduli, dan berhenti mendoakan keselamatan bagi Azar.