home masjid

Eksodus Ibrahim: Dari Babilonia Menuju Fondasi Peradaban Makkah

Senin, 11 Mei 2026 - 17:00 WIB
Kehidupan domestik Ibrahim kemudian memasuki babak baru yang penuh haru. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Keputusan pengadilan di Babilonia itu final: Ibrahim harus angkat kaki. Tokoh yang mengguncang singgasana Namrud dengan nalar ketuhanannya itu terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya, memulai sebuah pengembaraan panjang yang melintasi Mesir hingga Palestina. Ja'far Subhani dalam Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW mencatat bahwa dalam pelarian politik dan spiritual ini, Ibrahim disambut hangat oleh bangsa Amaliqa yang menguasai wilayah tersebut. Dari sana, ia membawa pulang banyak hadiah, termasuk seorang perempuan bernama Hajar.

Kehidupan domestik Ibrahim kemudian memasuki babak baru yang penuh haru. Sarah, sang istri pertama yang belum dikaruniai keturunan, menunjukkan kebesaran hati dengan menyarankan Ibrahim menikahi Hajar. Harapannya sederhana namun mendalam: hadirnya seorang putra sebagai sumber kebahagiaan keluarga. Doa itu terjawab dengan lahirnya Ismail, jauh sebelum Sarah akhirnya hamil dan melahirkan Ishaq, sebagaimana terekam dalam kitab Sa’d as-Su’ud dan Bihar al-Anwar.

Namun, kebahagiaan itu segera diuji oleh perintah yang tampak paradoks. Ibrahim diperintahkan Allah untuk membawa Ismail dan Hajar ke arah selatan, menuju sebuah lembah yang tak dikenal dan tak berpenghuni. Tempat itu kini kita kenal sebagai Makkah, namun pada masa itu ia hanyalah hamparan pasir yang membakar, hanya sesekali disinggahi kafilah yang melintas antara Syam dan Yaman. Bagi Hajar, yang terbiasa dengan kenyamanan di negeri Amaliqa, tinggal di lembah mengerikan itu adalah bayangan kematian yang nyata.

Detik-detik perpisahan itu digambarkan Subhani dengan sangat manusiawi. Ibrahim, sang nabi yang teguh, tak mampu membendung air mata saat memegang kendali hewan tunggangannya untuk mengucapkan selamat tinggal. Ia berujar kepada Hajar bahwa semua ini adalah perintah Yang Mahakuasa yang tak dapat dilawan. "Bersandarlah pada rahmat Allah, dan yakinlah bahwa Ia tak akan menistakan kamu," ucapnya dengan suara bergetar.

Sambil menuruni bukit dan menengok ke belakang, Ibrahim melangitkan doa yang abadi, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 126:

رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ

Rabbi-j’al hadza baladan aminan war-zuq ahlahu minats-tsamarati man amana minhum billahi wal-yaumil-akhir.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya