Catatan Anwar Abbas dari Kashgar, Xinjiang, China
Kota Orang Uighur, Yang Penuh Warna Musik, Banyak Masjid dan Saksi Bisu Persilangan Budaya
Tim langit 7
Rabu, 20 Mei 2026 - 13:40 WIB
Kota Orang Uighur, Yang Penuh Warna Musik, Banyak Masjid dan Saksi Bisu Persilangan Budaya
LANGIT7.ID-Kashgar (atau Kashi) adalah kota bersejarah terletak di ujung barat daya Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, China. Kota kuno Kashgar ini luasnya sekitar 3,6 km persegi. Kota ini berada di ujung jalan raya Karakoram yang menghubungkan China dan Pakistan dan terkenal sebagai jantung kebudayaan Etnis Uighur (keturunan Turki) yang memiliki bahasa (bahasa Uighur) dan tradisi yang lebih dekat dengan rumpun Asia Tengah dibandingkan dengan kebudayaan mayoritas tiongkok daratan. Bila dikaitkan dengan masa lalu maka Kota ini merupakan saksi bisu persilangan budaya, agama, dan rute perdagangan antara Tiongkok, Asia Tengah, Timur Tengah, dan Eropa.
Arsitektur bangunan di kota ini tampak dominan bergaya tradisional Timur Tengah/Asia Tengah. Di kota ini terdapat Masjid Id Kah yang sudah sejak lama menjadi lambang Kashgar Kuno. Masjid ini mulai dibangun pada 1442 dan sudah bersejarah 600 tahun lebih hingga saat ini. Kompleks bangunan Masjid Id Kah dibangun dengan arsitektur etnis setempat dan sangat kental nuansa agama Islamnya. Di daerah Kashghar jumlah mesjid sangat banyak yaitu sekitar 10.000 mesjid dan mesjid Id Kah merupakan salah satu mesjid terbesar di China. Kota Kashghar dikenal sebagai pusat budaya uighur dan musik merupakan salah satu daya tariknya.
Nyaris setiap malam di kota tua kashghar diselenggarakan pertunjukan musik tradisional uyghur dan tarian spontan. Bahkan mereka juga sering menyelenggarakan festifal musik dan tari dengan mengundang seniman dari berbagai latar belakang. Biasanya mereka memakai pakaian yang berwarna warni. Menurut informasi di malam hari suka bercampur antara panggilan azan dari mesjid Id Kah dengan musik di kafe dan obrolan pedagang di pasar. Alat musik mereka merupakan perpaduan antara budaya musik timur tengah dan asia tengah. Mereka punya alat musik berdasarkan cara memainkannya. Alat musik petik yang terkenal adalah rawap yang memiliki leher panjang di hiasi dengan tanduk memiliki 5-7 senar. Sementara alat musik geseknya ghijak dan khustar yang suaranya mirip biola, alat musik pukul adalah rebana dan tiup bernama satar yang kadang dikategorikan orang sebagai alat musik gesek. Luar biasa Khashghar. Cuma sayang di jalan-jalan agak sedikit berdebu. (Anwar abbas
Pengamat Sosial Ekonomi dan Agama)
Arsitektur bangunan di kota ini tampak dominan bergaya tradisional Timur Tengah/Asia Tengah. Di kota ini terdapat Masjid Id Kah yang sudah sejak lama menjadi lambang Kashgar Kuno. Masjid ini mulai dibangun pada 1442 dan sudah bersejarah 600 tahun lebih hingga saat ini. Kompleks bangunan Masjid Id Kah dibangun dengan arsitektur etnis setempat dan sangat kental nuansa agama Islamnya. Di daerah Kashghar jumlah mesjid sangat banyak yaitu sekitar 10.000 mesjid dan mesjid Id Kah merupakan salah satu mesjid terbesar di China. Kota Kashghar dikenal sebagai pusat budaya uighur dan musik merupakan salah satu daya tariknya.
Nyaris setiap malam di kota tua kashghar diselenggarakan pertunjukan musik tradisional uyghur dan tarian spontan. Bahkan mereka juga sering menyelenggarakan festifal musik dan tari dengan mengundang seniman dari berbagai latar belakang. Biasanya mereka memakai pakaian yang berwarna warni. Menurut informasi di malam hari suka bercampur antara panggilan azan dari mesjid Id Kah dengan musik di kafe dan obrolan pedagang di pasar. Alat musik mereka merupakan perpaduan antara budaya musik timur tengah dan asia tengah. Mereka punya alat musik berdasarkan cara memainkannya. Alat musik petik yang terkenal adalah rawap yang memiliki leher panjang di hiasi dengan tanduk memiliki 5-7 senar. Sementara alat musik geseknya ghijak dan khustar yang suaranya mirip biola, alat musik pukul adalah rebana dan tiup bernama satar yang kadang dikategorikan orang sebagai alat musik gesek. Luar biasa Khashghar. Cuma sayang di jalan-jalan agak sedikit berdebu. (Anwar abbas
Pengamat Sosial Ekonomi dan Agama)
(lam)