Pembangunan Fasilitas Publik yang Didasari Rasa Syukur Menghasilkan Kebahagiaan Universal
Miftah yusufpati
Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:42 WIB
Negara-negara yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam kebijakan publiknya terbukti memiliki tingkat kohesi sosial yang lebih stabil saat menghadapi krisis ekonomi global. Ist
LANGIT7.ID-Seorang perempuan tua terduduk di ruang tunggu sebuah rumah sakit modern di pusat kota. Di sekelilingnya, dinding-dinding beton yang kokoh, deretan alat medis mutakhir, dan kesibukan para perawat menciptakan atmosfer pelayanan yang efisien. Perempuan itu baru saja menyelesaikan administrasi pengobatan suaminya tanpa mengeluarkan sepeser pun uang, berkat program subsidi yang dikelola lembaga sosial kota.
Bagi masyarakat modern, pemandangan ini adalah manifestasi dari keberhasilan sistem jaminan sosial negara maju. Namun, di balik efisiensi birokrasi dan kemajuan fasilitas tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terabaikan: apa yang menggerakkan nurani manusia untuk mendirikan semua ini?
Ketika sebuah peradaban mencapai puncak teknologinya, ujian sesungguhnya bukan terletak pada seberapa megah gedung yang dibangun, melainkan pada nilai spiritual apa yang mendasari kepedulian mereka terhadap sesama manusia.
Kemajuan kebudayaan sebuah negara pada era modern sering kali diukur dari kemampuannya dalam mengelola institusi sosial. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul Sejarah Hidup Muhammad memberikan analisis interpretatif yang tajam mengenai fenomena ini.
Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterjemahkan oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Haekal menggarisbawahi pentingnya menyuntikkan nilai transendental ke dalam aksi kemanusiaan.
Haekal menulis bahwa apabila negara-negara yang sudah tinggi kebudayaannya pada zaman kita sekarang ini mendirikan rumah-rumah sakit, lembaga-lembaga sosial dan amal untuk menolong fakir-miskin, atas nama kasih sayang dan kemanusiaan, maka didirikannya lembaga-lembaga itu karena didorong oleh rasa persaudaraan serta rasa cinta dan syukur kepada Allah atas nikmat yang diterimanya, sungguh ini suatu pikiran yang lebih tinggi dan lebih tepat memberikan kebahagiaan kepada seluruh umat manusia.
Pernyataan ini mengkritik kecenderungan dunia modern yang sering kali mengisolasi aktivitas filantropi hanya sebagai pemenuhan kewajiban sekuler atau regulasi pajak semata.
Bagi masyarakat modern, pemandangan ini adalah manifestasi dari keberhasilan sistem jaminan sosial negara maju. Namun, di balik efisiensi birokrasi dan kemajuan fasilitas tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terabaikan: apa yang menggerakkan nurani manusia untuk mendirikan semua ini?
Ketika sebuah peradaban mencapai puncak teknologinya, ujian sesungguhnya bukan terletak pada seberapa megah gedung yang dibangun, melainkan pada nilai spiritual apa yang mendasari kepedulian mereka terhadap sesama manusia.
Kemajuan kebudayaan sebuah negara pada era modern sering kali diukur dari kemampuannya dalam mengelola institusi sosial. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul Sejarah Hidup Muhammad memberikan analisis interpretatif yang tajam mengenai fenomena ini.
Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterjemahkan oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Haekal menggarisbawahi pentingnya menyuntikkan nilai transendental ke dalam aksi kemanusiaan.
Haekal menulis bahwa apabila negara-negara yang sudah tinggi kebudayaannya pada zaman kita sekarang ini mendirikan rumah-rumah sakit, lembaga-lembaga sosial dan amal untuk menolong fakir-miskin, atas nama kasih sayang dan kemanusiaan, maka didirikannya lembaga-lembaga itu karena didorong oleh rasa persaudaraan serta rasa cinta dan syukur kepada Allah atas nikmat yang diterimanya, sungguh ini suatu pikiran yang lebih tinggi dan lebih tepat memberikan kebahagiaan kepada seluruh umat manusia.
Pernyataan ini mengkritik kecenderungan dunia modern yang sering kali mengisolasi aktivitas filantropi hanya sebagai pemenuhan kewajiban sekuler atau regulasi pajak semata.