Regulasi Moral Surah Al-Isra Melampaui Konsep Manusia Sempurna Peradaban Sekuler
Miftah yusufpati
Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:02 WIB
Susunan ayat ini merupakan mukjizat sastra dan hukum yang memaksa para pembacanya untuk tertegun mengagumi kedalamannya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Seorang pria paruh baya berdiri terpaku di depan meja kasir sebuah toko kelontong di sudut pemukiman padat. Tangannya memegang karung beras yang baru saja ditimbang. Di layar digital, tertera angka sepuluh kilogram tepat.
Sang pemilik toko, seorang pemuda yang mengelola usaha warisan ayahnya, tersenyum lalu menambahkan segenggam beras ke dalam karung tersebut untuk memastikan tidak ada hak pembeli yang kurang. Pemuda ini tidak sedang diawasi oleh petugas dinas perdagangan. Ia juga tidak sedang mengincar ulasan bintang lima di aplikasi digital.
Tindakannya didorong oleh sebuah kesadaran batin yang bersumber dari kode etik kuno yang ia pelajari sejak kecil. Di tempat lain, seorang anak perempuan dengan sabar menyuapi ibunya yang lumpuh, menahan diri untuk tidak mengeluh meski rasa lelah mendera setelah seharian bekerja.
Dua kilasan peristiwa urban ini bukan sekadar potret kebaikan sosial yang acak, melainkan manifestasi dari sistem norma yang mengikat kesadaran manusia tanpa batas ruang dan waktu.
Sistem etika dalam sejarah manusia sering kali dibentuk oleh kepentingan kelas, hukum negara, atau kalkulasi untung-rugi secara materiil. Namun, Islam menawarkan sebuah konstruksi moral yang berbeda.
Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad, mengulas keunikan ini dengan argumentasi yang tajam. Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan diterjemahkan oleh Ali Audah, Haekal memberikan penilaian objektif mengenai keunggulan etika tersebut.
Haekal menyatakan bahwa norma-norma ini memang sungguh luhur sekali, yang memang belum ada tandingannya dalam kebudayaan mana pun atau dalam zaman apa pun. Norma tersebut bersumber langsung dari keimanan kepada Allah serta latihan mental dan hati, tanpa ada tendensi untuk mencari keuntungan materi di balik semua itu.
Sang pemilik toko, seorang pemuda yang mengelola usaha warisan ayahnya, tersenyum lalu menambahkan segenggam beras ke dalam karung tersebut untuk memastikan tidak ada hak pembeli yang kurang. Pemuda ini tidak sedang diawasi oleh petugas dinas perdagangan. Ia juga tidak sedang mengincar ulasan bintang lima di aplikasi digital.
Tindakannya didorong oleh sebuah kesadaran batin yang bersumber dari kode etik kuno yang ia pelajari sejak kecil. Di tempat lain, seorang anak perempuan dengan sabar menyuapi ibunya yang lumpuh, menahan diri untuk tidak mengeluh meski rasa lelah mendera setelah seharian bekerja.
Dua kilasan peristiwa urban ini bukan sekadar potret kebaikan sosial yang acak, melainkan manifestasi dari sistem norma yang mengikat kesadaran manusia tanpa batas ruang dan waktu.
Sistem etika dalam sejarah manusia sering kali dibentuk oleh kepentingan kelas, hukum negara, atau kalkulasi untung-rugi secara materiil. Namun, Islam menawarkan sebuah konstruksi moral yang berbeda.
Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad, mengulas keunikan ini dengan argumentasi yang tajam. Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan diterjemahkan oleh Ali Audah, Haekal memberikan penilaian objektif mengenai keunggulan etika tersebut.
Haekal menyatakan bahwa norma-norma ini memang sungguh luhur sekali, yang memang belum ada tandingannya dalam kebudayaan mana pun atau dalam zaman apa pun. Norma tersebut bersumber langsung dari keimanan kepada Allah serta latihan mental dan hati, tanpa ada tendensi untuk mencari keuntungan materi di balik semua itu.