Fadli Zon Sebut Jam Gadang Simbol Diplomasi Indonesia-Belanda di Usia 100 Tahun
Tim langit 7
Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:23 WIB
Fadli Zon Sebut Jam Gadang Simbol Diplomasi Indonesia-Belanda di Usia 100 Tahun
LANGIT7.ID-Bukittinggi; Dalam rangka memperingati 100 Tahun Jam Gadang, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Pemerintah Kota Bukittinggi menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda: Pergerakan Kemerdekaan hingga Repatriasi”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama atas perjalanan hubungan Indonesia dan Belanda yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad, dari masa perjuangan kemerdekaan hingga kerja sama kebudayaan yang terus berkembang pada masa kini.
Mengambil metafora tenun sebagai simbol hubungan antarbangsa, seminar ini mengajak masyarakat untuk melihat sejarah Indonesia dan Belanda sebagai sebuah jalinan panjang yang terdiri atas berbagai utas pengalaman bersama. Seperti halnya sehelai kain yang terbentuk dari banyak benang, hubungan kedua negara juga dibangun melalui perjuangan, dialog, negosiasi, rekonsiliasi, dan kerja sama yang terus dirajut dari waktu ke waktu.
Membuka pidatonya, Menteri Kebudayaan menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan peringatan tersebut. Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya menggerakkan kesadaran terhadap sejarah dan budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi serta berbagai efek positif lainnya.
Menbud menyampaikan dalam situasi dunia seperti ini, disadari bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan militernya, tetapi juga oleh identitas, karakter, dan kebudayaannya. Menurutnya sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang kuat mampu mempertahankan eksistensinya karena memiliki fondasi kebudayaan yang kokoh. “Nusantara pernah menjadi wilayah yang sangat kaya sumber daya dan kebudayaan. Karena itulah bangsa-bangsa asing datang ke wilayah ini. Oleh karena itu memahami sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memahami bagaimana perjalanan bangsa ini membentuk identitas kita hari ini,” sambung dia dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Terkait tema kegiatan, Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa Jam Gadang yang dibangun 100 tahun lalu merupakan simbol perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau di Kota Bukittinggi. Menurutnya Jam Gadang yang dibangun atas prakarsa Hendrik Ruhmacher sebagai hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada masyarakat Bukittinggi tersebut dirancang oleh arsitek putra Minangkabau, Yazid Rajo Mangkuto, dan menunjukkan akulturasi budaya yang tercermin dari perubahan bentuk puncak menara dari masa ke masa hingga hadirnya gonjong sebagai identitas Minangkabau.
Adapun pemilihan Bukittinggi sebagai lokasi penyelenggaraan seminar memiliki makna historis yang mendalam. Kota ini merupakan salah satu pusat lahirnya para diplomat, pemikir, dan tokoh bangsa yang berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, mulai dari Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Sutan Takdir Alisjahbana. Menbud kembali menegaskan pentingnya peran Bukittinggi dan Sumatera Barat dalam sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Menbud mengingatkan bahwa PDRI memiliki peran yang sangat penting dalam mempertahankan eksistensi negara setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948.
“Bukittinggi memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Saya termasuk yang sejak lama mendorong agar Bukittinggi dikenal sebagai Kota Perjuangan, karena peran historisnya yang sangat besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia,” ujar Menbud.
Mengambil metafora tenun sebagai simbol hubungan antarbangsa, seminar ini mengajak masyarakat untuk melihat sejarah Indonesia dan Belanda sebagai sebuah jalinan panjang yang terdiri atas berbagai utas pengalaman bersama. Seperti halnya sehelai kain yang terbentuk dari banyak benang, hubungan kedua negara juga dibangun melalui perjuangan, dialog, negosiasi, rekonsiliasi, dan kerja sama yang terus dirajut dari waktu ke waktu.
Membuka pidatonya, Menteri Kebudayaan menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan peringatan tersebut. Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya menggerakkan kesadaran terhadap sejarah dan budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi serta berbagai efek positif lainnya.
Menbud menyampaikan dalam situasi dunia seperti ini, disadari bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan militernya, tetapi juga oleh identitas, karakter, dan kebudayaannya. Menurutnya sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang kuat mampu mempertahankan eksistensinya karena memiliki fondasi kebudayaan yang kokoh. “Nusantara pernah menjadi wilayah yang sangat kaya sumber daya dan kebudayaan. Karena itulah bangsa-bangsa asing datang ke wilayah ini. Oleh karena itu memahami sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memahami bagaimana perjalanan bangsa ini membentuk identitas kita hari ini,” sambung dia dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Terkait tema kegiatan, Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa Jam Gadang yang dibangun 100 tahun lalu merupakan simbol perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau di Kota Bukittinggi. Menurutnya Jam Gadang yang dibangun atas prakarsa Hendrik Ruhmacher sebagai hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada masyarakat Bukittinggi tersebut dirancang oleh arsitek putra Minangkabau, Yazid Rajo Mangkuto, dan menunjukkan akulturasi budaya yang tercermin dari perubahan bentuk puncak menara dari masa ke masa hingga hadirnya gonjong sebagai identitas Minangkabau.
Adapun pemilihan Bukittinggi sebagai lokasi penyelenggaraan seminar memiliki makna historis yang mendalam. Kota ini merupakan salah satu pusat lahirnya para diplomat, pemikir, dan tokoh bangsa yang berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, mulai dari Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Sutan Takdir Alisjahbana. Menbud kembali menegaskan pentingnya peran Bukittinggi dan Sumatera Barat dalam sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Menbud mengingatkan bahwa PDRI memiliki peran yang sangat penting dalam mempertahankan eksistensi negara setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948.
“Bukittinggi memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Saya termasuk yang sejak lama mendorong agar Bukittinggi dikenal sebagai Kota Perjuangan, karena peran historisnya yang sangat besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia,” ujar Menbud.