Etika Memperlakukan Perempuan dan Pembantu Jadi Indikator Kematangan Sosial Muslim
Miftah yusufpati
Senin, 22 Juni 2026 - 17:02 WIB
Pola komunikasi yang penuh penghormatan terbukti mampu bertahan sebagai standar moral lintas jaman. Ilustrasi: AI
LANGITT7.ID- Suasana dapur di sebuah rumah kawasan urban mendadak sunyi ketika sebuah piring porselen jatuh dan pecah berkeping-keping. Sang asisten rumah tangga tertunduk dengan tubuh gemetar, mengantisipasi rentetan makian yang biasa meluncur dari lisan majikan.
Di belahan rumah yang lain, seorang istri terdiam menahan tangis setelah argumen kecilnya dibalas dengan bentakan keras yang mematahkan harga dirinya.
Dua fragmen sosiologis ini jamak terjadi di ruang-ruang domestik modern. Ruang yang seharusnya menjadi suaka kenyamanan sering kali berubah menjadi medan intimidasi psikologis bagi kelompok yang dianggap lemah secara posisi sosial, yaitu wanita dan pembantu.
Kecenderungan manusia untuk bertindak superior terhadap mereka yang berada di bawah kendalinya merupakan problem moral yang universal.
Menanggapi fenomena ini, Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri dalam kitab Mukhtasar Al-Fiqh Al-Islami atau Ringkasan Fiqih Islam (IslamHouse, 2012) menempatkan pembahasan etika domestik ini dalam porsi yang sangat strategis.
Menurut At-Tuwaijri, kualitas keimanan seorang muslim tidak hanya diuji di atas sajadah, melainkan diukur dari bagaimana ia memperlakukan lingkaran internal di dalam rumahnya. Kelembutan terhadap wanita dan penghormatan terhadap hak-hak pekerja domestik adalah dua pilar yang menentukan sehat atau tidaknya tatanan sosial sebuah masyarakat.
Logika Tulang Rusuk
Di belahan rumah yang lain, seorang istri terdiam menahan tangis setelah argumen kecilnya dibalas dengan bentakan keras yang mematahkan harga dirinya.
Dua fragmen sosiologis ini jamak terjadi di ruang-ruang domestik modern. Ruang yang seharusnya menjadi suaka kenyamanan sering kali berubah menjadi medan intimidasi psikologis bagi kelompok yang dianggap lemah secara posisi sosial, yaitu wanita dan pembantu.
Kecenderungan manusia untuk bertindak superior terhadap mereka yang berada di bawah kendalinya merupakan problem moral yang universal.
Menanggapi fenomena ini, Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri dalam kitab Mukhtasar Al-Fiqh Al-Islami atau Ringkasan Fiqih Islam (IslamHouse, 2012) menempatkan pembahasan etika domestik ini dalam porsi yang sangat strategis.
Menurut At-Tuwaijri, kualitas keimanan seorang muslim tidak hanya diuji di atas sajadah, melainkan diukur dari bagaimana ia memperlakukan lingkaran internal di dalam rumahnya. Kelembutan terhadap wanita dan penghormatan terhadap hak-hak pekerja domestik adalah dua pilar yang menentukan sehat atau tidaknya tatanan sosial sebuah masyarakat.
Logika Tulang Rusuk