INDEF Peringatkan Risiko PHK Mengintai jika Guncangan Global Berlanjut, Tapi Inget Indonesia Masih Punya Modal Bertahan
Tim langit 7
Jum'at, 26 Juni 2026 - 10:41 WIB
INDEF Peringatkan Risiko PHK Mengintai jika Guncangan Global Berlanjut, Tapi Inget Indonesia Masih Punya Modal Bertahan
LANGIT7.ID-Jakarta; Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperingatkan bahwa risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi meningkat apabila tekanan ekonomi global terus berlanjut dan membebani sektor industri nasional. Kondisi tersebut dipicu oleh kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga energi serta gangguan rantai pasok global.
Peringatan itu disampaikan dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 bertajuk Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim yang digelar INDEF di Jakarta, Kamis (25/6).
INDEF menjelaskan, sejak awal 2026 ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan akibat berbagai faktor eksternal. Mulai dari meluasnya konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran hingga penutupan Selat Hormuz, dampak penilaian MSCI terhadap pasar keuangan, sinyal negatif dari lembaga pemeringkat investasi, sampai rencana kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed. Kondisi tersebut mempersempit ruang fiskal, menekan daya beli masyarakat, dan mengurangi daya saing sektor riil.
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen, INDEF menilai capaian tersebut masih menyimpan kerentanan. Pertumbuhan terutama ditopang konsumsi selama Lebaran, efek basis rendah, dan peningkatan belanja pemerintah pada awal tahun. Di sisi lain, daya beli masyarakat mulai melemah, tercermin dari turunnya Indeks Keyakinan Konsumen serta melambatnya pertumbuhan Indeks Penjualan Riil hingga berada di zona negatif.
Tekanan juga dirasakan sektor industri. INDEF mencatat bahan baku menyumbang 86,7 persen dari total biaya produksi dan sekitar seperempatnya masih bergantung pada impor. Kenaikan harga energi serta terganggunya rantai pasok global terus menekan margin industri, terutama sektor alat angkutan, tekstil, elektronik, dan industri berbasis energi fosil. Pada saat yang sama, surplus perdagangan Indonesia turun menjadi hanya US$0,09 miliar pada April 2026, menjadi yang terendah sejak Mei 2020.
“Jika tekanan tingginya biaya ini terus berlanjut dan mempengaruhi margin usaha, risiko PHK tidak dapat dihindari,” tulis INDEF dalam laporan Kajian Tengah Tahun 2026, dikutip Jumat (26/6/2026).
Untuk mengukur dampak guncangan global terhadap perekonomian nasional, INDEF melakukan simulasi menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE) melalui tiga skenario.
Peringatan itu disampaikan dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 bertajuk Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim yang digelar INDEF di Jakarta, Kamis (25/6).
INDEF menjelaskan, sejak awal 2026 ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan akibat berbagai faktor eksternal. Mulai dari meluasnya konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran hingga penutupan Selat Hormuz, dampak penilaian MSCI terhadap pasar keuangan, sinyal negatif dari lembaga pemeringkat investasi, sampai rencana kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed. Kondisi tersebut mempersempit ruang fiskal, menekan daya beli masyarakat, dan mengurangi daya saing sektor riil.
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen, INDEF menilai capaian tersebut masih menyimpan kerentanan. Pertumbuhan terutama ditopang konsumsi selama Lebaran, efek basis rendah, dan peningkatan belanja pemerintah pada awal tahun. Di sisi lain, daya beli masyarakat mulai melemah, tercermin dari turunnya Indeks Keyakinan Konsumen serta melambatnya pertumbuhan Indeks Penjualan Riil hingga berada di zona negatif.
Tekanan juga dirasakan sektor industri. INDEF mencatat bahan baku menyumbang 86,7 persen dari total biaya produksi dan sekitar seperempatnya masih bergantung pada impor. Kenaikan harga energi serta terganggunya rantai pasok global terus menekan margin industri, terutama sektor alat angkutan, tekstil, elektronik, dan industri berbasis energi fosil. Pada saat yang sama, surplus perdagangan Indonesia turun menjadi hanya US$0,09 miliar pada April 2026, menjadi yang terendah sejak Mei 2020.
“Jika tekanan tingginya biaya ini terus berlanjut dan mempengaruhi margin usaha, risiko PHK tidak dapat dihindari,” tulis INDEF dalam laporan Kajian Tengah Tahun 2026, dikutip Jumat (26/6/2026).
Untuk mengukur dampak guncangan global terhadap perekonomian nasional, INDEF melakukan simulasi menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE) melalui tiga skenario.