Pengajian Umum Kuliti Kelemahan Bisnis BSI dan dan Muhammadiyah
Miftah yusufpati
Sabtu, 27 Juni 2026 - 04:00 WIB
Adiwarman Azwar Karim, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah bertemakan Resiliensi Keuangan: Mencari Model Penguatan Ekonomi Ormas pada Jumat, 26 Juni 2026. Foto: Ist
LANGIT7.ID- Kelemahan bisnis Bank Syariah Indonesia atau BSI dan Muhammadiyah dikuliti dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah di TVMU, Jumat (26/6/2026). Kedua institusi ini disorot tajam karena dinilai gagal menguasai ekosistem perputaran uang.
Kritik tersebut disampaikan oleh ahli ekonomi syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI), Adiwarman Azwar Karim, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah bertemakan "Resiliensi Keuangan: Mencari Model Penguatan Ekonomi Ormas" pada Jumat, 26 Juni 2026.
Dalam acara yang disiarkan langsung melalui TV Muhammadiyah (TVMU) itu, ia menyoroti kegagalan kedua institusi dalam menguasai ekosistem perputaran uang.
Adiwarman menjabarkan kelemahan BSI yang dinilainya kalah lincah dari bank konvensional dalam menahan dana nasabah pada akhir pekan.
Menurutnya, BSI telah mengerahkan segala upaya teknologi dan dalil syariah untuk menarik minat tabungan masyarakat, tetapi uang tersebut segera mengalir keluar dalam jumlah besar saat akhir pekan tiba.
"Tiap Sabtu dan tiap Minggu, uangnya keluar dalam jumlah yang besar karena mereka belanja di mana-mana. Dan ketika belanja, pembayarannya pergi ke bank lain yang konvensional seperti BCA, Mandiri, BRI, BNI, atau Bank Nobu karena ada OVO. Kita hanya bagian mengumpulkan yang kecil-kecil, sedikit-sedikit, menabung. Namun setiap akhir pekan, uangnya keluar karena kita tidak mengikuti perputaran uangnya," ungkap Anggota Dewan Syariah Nasional MUI tersebut.
Selain menyentil BSI, Adiwarman juga menguliti strategi bisnis Muhammadiyah yang dinilainya masih gamang dan terjebak pada pola lama. Ia membandingkan Muhammadiyah dengan para konglomerat yang selalu hadir menawarkan produk di setiap siklus kehidupan manusia, mulai dari popok bayi, susu, kertas sekolah, hingga kebutuhan masa tua.
Kritik tersebut disampaikan oleh ahli ekonomi syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI), Adiwarman Azwar Karim, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah bertemakan "Resiliensi Keuangan: Mencari Model Penguatan Ekonomi Ormas" pada Jumat, 26 Juni 2026.
Dalam acara yang disiarkan langsung melalui TV Muhammadiyah (TVMU) itu, ia menyoroti kegagalan kedua institusi dalam menguasai ekosistem perputaran uang.
Adiwarman menjabarkan kelemahan BSI yang dinilainya kalah lincah dari bank konvensional dalam menahan dana nasabah pada akhir pekan.
Menurutnya, BSI telah mengerahkan segala upaya teknologi dan dalil syariah untuk menarik minat tabungan masyarakat, tetapi uang tersebut segera mengalir keluar dalam jumlah besar saat akhir pekan tiba.
"Tiap Sabtu dan tiap Minggu, uangnya keluar dalam jumlah yang besar karena mereka belanja di mana-mana. Dan ketika belanja, pembayarannya pergi ke bank lain yang konvensional seperti BCA, Mandiri, BRI, BNI, atau Bank Nobu karena ada OVO. Kita hanya bagian mengumpulkan yang kecil-kecil, sedikit-sedikit, menabung. Namun setiap akhir pekan, uangnya keluar karena kita tidak mengikuti perputaran uangnya," ungkap Anggota Dewan Syariah Nasional MUI tersebut.
Selain menyentil BSI, Adiwarman juga menguliti strategi bisnis Muhammadiyah yang dinilainya masih gamang dan terjebak pada pola lama. Ia membandingkan Muhammadiyah dengan para konglomerat yang selalu hadir menawarkan produk di setiap siklus kehidupan manusia, mulai dari popok bayi, susu, kertas sekolah, hingga kebutuhan masa tua.