Tafsir Al-Baqarah Ayat 10: Bahaya Penyakit Hati dan Ancamannya
Ahmad zuhdi
Kamis, 30 Juli 2026 - 05:46 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 10: Bahaya Penyakit Hati dan Ancamannya
Rangkaian ayat dalam Surat Al-Baqarah mengungkap secara mendalam tabiat dan karakter kaum munafik. Setelah menguraikan sifat-sifat orang kafir pada ayat sebelumnya, al-Qur'an pada ayat ke-10 ini membedah kondisi batiniah orang-orang yang mengaku beriman namun hatinya menyimpan busuk kemunafikan.
Ayat ini memperkenalkan konsep marad al-qalb atau penyakit hati sebagai kondisi keagamaan yang sangat berbahaya, sekaligus menjelaskan hukum sunnatullah bahwa perbuatan jahat akan membawa dampak pada bertambahnya kejahatan.
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌۭ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًۭا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (QS Al-Baqarah: 10).
Secara kebahasaan, kata qulūbihim diturunkan dari akar kata qa-la-ba yang merupakan bentuk jamak taksir dari qalb. Dalam konteks ayat ini, kata tersebut merujuk pada organ batin atau pusat keyakinan tempat bersemayamnya keraguan dan kemunafikan.
Al-Qur'an juga menggunakan akar kata ini dalam surat lain untuk menggambarkan kegoncangan jiwa maupun butanya mata hati. Sementara itu, kata maradun berasal dari akar kata ma-ra-da yang bermakna kondisi yang menyimpang dari keseimbangan sehat. Dalam konteks ayat ini, maradun bermakna penyakit keimanan berupa keraguan, kemunafikan, dan kekufuran.
Selanjutnya, penggalan fazādahumu yang dibentuk dari akar kata za-ya-da berarti menambahkan atau menjadikan sesuatu lebih besar. Dalam ayat ini, Allah menambah penyakit hati mereka sebagai bentuk pembalasan atas kedustaan yang mereka lakukan.
Ayat ini memperkenalkan konsep marad al-qalb atau penyakit hati sebagai kondisi keagamaan yang sangat berbahaya, sekaligus menjelaskan hukum sunnatullah bahwa perbuatan jahat akan membawa dampak pada bertambahnya kejahatan.
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌۭ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًۭا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (QS Al-Baqarah: 10).
Secara kebahasaan, kata qulūbihim diturunkan dari akar kata qa-la-ba yang merupakan bentuk jamak taksir dari qalb. Dalam konteks ayat ini, kata tersebut merujuk pada organ batin atau pusat keyakinan tempat bersemayamnya keraguan dan kemunafikan.
Al-Qur'an juga menggunakan akar kata ini dalam surat lain untuk menggambarkan kegoncangan jiwa maupun butanya mata hati. Sementara itu, kata maradun berasal dari akar kata ma-ra-da yang bermakna kondisi yang menyimpang dari keseimbangan sehat. Dalam konteks ayat ini, maradun bermakna penyakit keimanan berupa keraguan, kemunafikan, dan kekufuran.
Selanjutnya, penggalan fazādahumu yang dibentuk dari akar kata za-ya-da berarti menambahkan atau menjadikan sesuatu lebih besar. Dalam ayat ini, Allah menambah penyakit hati mereka sebagai bentuk pembalasan atas kedustaan yang mereka lakukan.