Sanksi Baru AS Hantam Iran, Warga Teheran Mulai Antre Panjang di SPBU
Nabil
Rabu, 26 Agustus 2026 - 05:00 WIB
(Dok: Ilustrasi Langit7.id)
LANGIT7.ID-Jakarta; Antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Teheran, Selasa, setelah Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru yang ditujukan untuk menekan Iran agar menyerah.
Washington kini mengalihkan tekanan ke sektor ekonomi setelah enam bulan perang dengan Iran mengalami kebuntuan secara militer. Pembicaraan damai juga tersendat, sementara sebagian besar lalu lintas melalui Selat Hormuz yang sangat strategis masih terhambat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin memaparkan rencana yang disebut sebagai “pencekikan ekonomi” terhadap Iran. Menurutnya, tujuan kebijakan tersebut adalah “memutus setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini.”
Meski para pemimpin Iran menepis pernyataan keras tersebut karena negara itu telah menghadapi sanksi selama puluhan tahun, sebagian warga Teheran khawatir dampaknya akan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
“Wajar saja, sanksi memengaruhi kehidupan masyarakat. Orang-orang terdampak, baik mereka yang secara finansial berkecukupan maupun mereka yang secara finansial lemah,” kata agen properti Mehdi Yazdian, 55 tahun, yang mendesak pemerintah mengendalikan harga.
“Ya, sanksi-sanksi ini memang berdampak, tetapi tentu saja rakyat kami tangguh. Sanksi ini sudah diberlakukan selama 47 tahun.”
Iran sebenarnya sudah menghadapi inflasi yang sangat tinggi sebelum perang. Kondisi tersebut turut memicu gerakan protes antipemerintah yang mencapai puncaknya pada Januari.
Washington kini mengalihkan tekanan ke sektor ekonomi setelah enam bulan perang dengan Iran mengalami kebuntuan secara militer. Pembicaraan damai juga tersendat, sementara sebagian besar lalu lintas melalui Selat Hormuz yang sangat strategis masih terhambat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin memaparkan rencana yang disebut sebagai “pencekikan ekonomi” terhadap Iran. Menurutnya, tujuan kebijakan tersebut adalah “memutus setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini.”
Meski para pemimpin Iran menepis pernyataan keras tersebut karena negara itu telah menghadapi sanksi selama puluhan tahun, sebagian warga Teheran khawatir dampaknya akan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
“Wajar saja, sanksi memengaruhi kehidupan masyarakat. Orang-orang terdampak, baik mereka yang secara finansial berkecukupan maupun mereka yang secara finansial lemah,” kata agen properti Mehdi Yazdian, 55 tahun, yang mendesak pemerintah mengendalikan harga.
“Ya, sanksi-sanksi ini memang berdampak, tetapi tentu saja rakyat kami tangguh. Sanksi ini sudah diberlakukan selama 47 tahun.”
Iran sebenarnya sudah menghadapi inflasi yang sangat tinggi sebelum perang. Kondisi tersebut turut memicu gerakan protes antipemerintah yang mencapai puncaknya pada Januari.