Qatar Turun Tangan, Diplomasi AS-Iran Kembali Diupayakan di Tengah Konflik Selat Hormuz
Nabil
Jum'at, 28 Agustus 2026 - 05:04 WIB
(Dok: Ilustrasi Langit7.id)
LANGIT7.ID-Jakarta; Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengunjungi Teheran pada Kamis dalam upaya menghidupkan kembali jalur diplomasi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling menyalahkan terkait janji Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi. Langkah tersebut bahkan disebut seorang pejabat Iran sebagai “perang ekonomi habis-habisan”.
Sebagai negara tetangga Iran di kawasan Teluk sekaligus sekutu AS, Qatar selama ini menjadi perantara melalui jalur belakang bagi kedua pihak yang bertikai. Qatar juga berperan langsung dalam mengamankan gencatan senjata pada Juni yang sempat menghentikan pertempuran.
Sheikh Mohammed, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Qatar, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, menurut kanal Kementerian Luar Negeri Iran di Telegram.
Kunjungan tersebut berlangsung ketika perang mendekati bulan keenam. Pertempuran memang sebagian besar telah berhenti, tetapi belum terlihat terobosan diplomatik untuk mengakhiri konflik.
Salah satu persoalan utama yang masih diperdebatkan kedua pihak adalah kendali atas Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi titik penting bagi pasokan minyak dunia dan telah digunakan Teheran sebagai alat tawar.
Nota kesepahaman yang dicapai AS dan Iran pada Juni untuk mengakhiri konflik juga gagal berjalan, salah satunya akibat perbedaan pandangan mengenai jalur perairan sempit antara Iran dan Oman tersebut. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Dalam pertemuan tersebut, Qatar dan Iran membahas kerangka kerja bertahap yang diusulkan. Kerangka itu mencakup pembentukan koridor pelayaran bersama sementara antara Iran dan Oman melalui selat serta pelaksanaan proyek bersama untuk membersihkan ranjau dari jalur perairan tersebut.
Sebagai negara tetangga Iran di kawasan Teluk sekaligus sekutu AS, Qatar selama ini menjadi perantara melalui jalur belakang bagi kedua pihak yang bertikai. Qatar juga berperan langsung dalam mengamankan gencatan senjata pada Juni yang sempat menghentikan pertempuran.
Sheikh Mohammed, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Qatar, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, menurut kanal Kementerian Luar Negeri Iran di Telegram.
Kunjungan tersebut berlangsung ketika perang mendekati bulan keenam. Pertempuran memang sebagian besar telah berhenti, tetapi belum terlihat terobosan diplomatik untuk mengakhiri konflik.
Salah satu persoalan utama yang masih diperdebatkan kedua pihak adalah kendali atas Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi titik penting bagi pasokan minyak dunia dan telah digunakan Teheran sebagai alat tawar.
Nota kesepahaman yang dicapai AS dan Iran pada Juni untuk mengakhiri konflik juga gagal berjalan, salah satunya akibat perbedaan pandangan mengenai jalur perairan sempit antara Iran dan Oman tersebut. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Dalam pertemuan tersebut, Qatar dan Iran membahas kerangka kerja bertahap yang diusulkan. Kerangka itu mencakup pembentukan koridor pelayaran bersama sementara antara Iran dan Oman melalui selat serta pelaksanaan proyek bersama untuk membersihkan ranjau dari jalur perairan tersebut.