Tafsir Al-Baqarah Ayat 36: Awal Permusuhan Abadi Manusia dan Setan
Ahmad zuhdi
Ahad, 06 September 2026 - 06:45 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 36: Awal Permusuhan Abadi Manusia dan Setan
Ayat ke-36 Surah Al-Baqarah menandai babak baru dalam sejarah perjalanan kemanusiaan. Peristiwa ini merupakan kelanjutan dari penciptaan Nabi Adam ﷺ, perintah sujud kepada para malaikat, serta pembangkangan Iblis.
Jika ayat sebelumnya memuat perintah tinggal di surga dan larangan mendekati satu pohon tertentu, maka ayat ini mengungkap dampak dari pelanggaran tersebut: ketergelinciran Adam dan Hawa akibat tipu daya setan, terusirnya mereka dari surga, hingga diperintahkannya mereka turun ke bumi dalam status permusuhan yang nyata.
Menurut Syekh al-Sa'dī, ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan peringatan keras bagi anak cucu Adam agar senantiasa mewaspadai setan sebagai musuh utama.
Dalam penafsiran penggalan fa-azallahumā al-syaiṭān 'anhā, Imam al-Ṭabarī menjelaskan adanya perbedaan bacaan (qiraat) di kalangan ulama yang memperkaya makna. Mayoritas ahli qiraat membaca fa-azallahumā dengan penekanan pada huruf lām, yang berarti setan membuat keduanya tergelincir atau berbuat salah hingga melanggar aturan.
Sementara itu, Imam al-Baghawī mencatat bahwa Imam Ḥamzah membaca fa-azālahumā, yang bermakna setan menyingkirkan atau menjauhkan keduanya dari surga.
Imam Ibn Katsir mengaitkan kedua perbedaan bacaan tersebut dengan arah rujukan kata ganti (ḍamīr) pada kata 'anhā. Jika kata ganti tersebut merujuk pada surga, maka maknanya adalah menjauhkan keduanya dari kenikmatan surga. Namun, jika merujuk pada pohon terlarang, maknanya adalah tergelincir disebabkan oleh pohon tersebut.
Imam al-Ṭabarī juga mengutip pandangan Ibn ʿAbbās yang memaknai kalimat ini sebagai bentuk penyesatan dan godaan dari Iblis. Dari segi bahasa, al-Baghawī menambahkan bahwa kata al-syaiṭān berasal dari kata syatana yang berarti jauh, menggambarkan sosok yang jauh dari kebaikan dan rahmat Allah.
Jika ayat sebelumnya memuat perintah tinggal di surga dan larangan mendekati satu pohon tertentu, maka ayat ini mengungkap dampak dari pelanggaran tersebut: ketergelinciran Adam dan Hawa akibat tipu daya setan, terusirnya mereka dari surga, hingga diperintahkannya mereka turun ke bumi dalam status permusuhan yang nyata.
Menurut Syekh al-Sa'dī, ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan peringatan keras bagi anak cucu Adam agar senantiasa mewaspadai setan sebagai musuh utama.
Dalam penafsiran penggalan fa-azallahumā al-syaiṭān 'anhā, Imam al-Ṭabarī menjelaskan adanya perbedaan bacaan (qiraat) di kalangan ulama yang memperkaya makna. Mayoritas ahli qiraat membaca fa-azallahumā dengan penekanan pada huruf lām, yang berarti setan membuat keduanya tergelincir atau berbuat salah hingga melanggar aturan.
Sementara itu, Imam al-Baghawī mencatat bahwa Imam Ḥamzah membaca fa-azālahumā, yang bermakna setan menyingkirkan atau menjauhkan keduanya dari surga.
Imam Ibn Katsir mengaitkan kedua perbedaan bacaan tersebut dengan arah rujukan kata ganti (ḍamīr) pada kata 'anhā. Jika kata ganti tersebut merujuk pada surga, maka maknanya adalah menjauhkan keduanya dari kenikmatan surga. Namun, jika merujuk pada pohon terlarang, maknanya adalah tergelincir disebabkan oleh pohon tersebut.
Imam al-Ṭabarī juga mengutip pandangan Ibn ʿAbbās yang memaknai kalimat ini sebagai bentuk penyesatan dan godaan dari Iblis. Dari segi bahasa, al-Baghawī menambahkan bahwa kata al-syaiṭān berasal dari kata syatana yang berarti jauh, menggambarkan sosok yang jauh dari kebaikan dan rahmat Allah.