Nasaruddin Umar Minta Kemenag Pakai AI, Cegah Salah Diagnosis Masalah Keagamaan di Daerah
Tim langit 7
Ahad, 13 September 2026 - 17:12 WIB
Nasaruddin Umar Minta Kemenag Pakai AI, Cegah Salah Diagnosis Masalah Keagamaan di Daerah
LANGIT7.ID-Semarang;Kementerian Agama mulai mendorong penggunaan Artificial Intelligence (AI) sebagai instrumen untuk membaca persoalan sosial-keagamaan secara lebih presisi sebelum kebijakan diterapkan di daerah.
Dorongan ini muncul karena persoalan keagamaan yang dihadapi jajaran Kemenag di wilayah dinilai semakin kompleks. Mulai dari pendirian rumah ibadah di wilayah heterogen, dinamika aliran keagamaan non-mainstream, hingga potensi gesekan akibat politik lokal.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menghadapi situasi tersebut. Menurut dia, pemetaan data yang tidak presisi dapat meningkatkan potensi terjadinya bias atau misdiagnosis dalam merumuskan kebijakan.
Karena itu, setiap Kepala Kanwil dan Kankemenag dinilai perlu memiliki kecakapan literasi digital yang mumpuni. AI dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosis situasi spesifik, memetakan potensi masalah, sekaligus menggali kearifan lokal sebelum sebuah kebijakan dieksekusi.
Pemanfaatan teknologi tersebut diperlihatkan Nasaruddin melalui simulasi instrumen AI di hadapan para Kakanwil. Dalam simulasi itu, teknologi dapat menjabarkan kelemahan dan tantangan isu keagamaan secara spesifik di suatu provinsi.
Dengan memasukkan kata kunci yang tepat, instrumen AI juga mampu menyajikan identifikasi masalah secara terstruktur. Tidak hanya itu, hasil analisis dapat dilengkapi referensi penyelesaian yang berbasis pada tradisi masyarakat setempat.
Nasaruddin bahkan mencontohkan bagaimana AI dapat digunakan untuk mencari faktor di balik tingginya tingkat kerukunan di suatu daerah.
Dorongan ini muncul karena persoalan keagamaan yang dihadapi jajaran Kemenag di wilayah dinilai semakin kompleks. Mulai dari pendirian rumah ibadah di wilayah heterogen, dinamika aliran keagamaan non-mainstream, hingga potensi gesekan akibat politik lokal.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menghadapi situasi tersebut. Menurut dia, pemetaan data yang tidak presisi dapat meningkatkan potensi terjadinya bias atau misdiagnosis dalam merumuskan kebijakan.
Karena itu, setiap Kepala Kanwil dan Kankemenag dinilai perlu memiliki kecakapan literasi digital yang mumpuni. AI dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosis situasi spesifik, memetakan potensi masalah, sekaligus menggali kearifan lokal sebelum sebuah kebijakan dieksekusi.
Pemanfaatan teknologi tersebut diperlihatkan Nasaruddin melalui simulasi instrumen AI di hadapan para Kakanwil. Dalam simulasi itu, teknologi dapat menjabarkan kelemahan dan tantangan isu keagamaan secara spesifik di suatu provinsi.
Dengan memasukkan kata kunci yang tepat, instrumen AI juga mampu menyajikan identifikasi masalah secara terstruktur. Tidak hanya itu, hasil analisis dapat dilengkapi referensi penyelesaian yang berbasis pada tradisi masyarakat setempat.
Nasaruddin bahkan mencontohkan bagaimana AI dapat digunakan untuk mencari faktor di balik tingginya tingkat kerukunan di suatu daerah.