home masjid

Tafsir Al-Baqarah Ayat 49: Tirani Firaun dan Keistimewaan Orang Merdeka 

Rabu, 23 September 2026 - 05:03 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 49: Tirani Firaun dan Keistimewaan Orang Merdeka

Ayat ke-49 dari Surat Al-Baqarah merupakan bagian dari rangkaian peringatan Allah ﷻ kepada Bani Israil agar mereka senantiasa mengaitkan ingatan pada berbagai limpahan nikmat-Nya. Apabila pada ayat sebelumnya Allah ﷻ memerintahkan 'wahai Bani Israil untuk mengingat nikmat-Ku', maka pada ayat ini Allah ﷻ merinci salah satu bentuk nikmat terbesar tersebut, yaitu peristiwa penyelamatan mereka dari cengkeraman Firaun dan para pengikutnya.

وَإِذْ نَجَّيْنَٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌۭ



Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. (QS Al-Baqarah: 49).

Al-Shanqīṭī menegaskan dalam Adwa al-Bayan bahwa ayat ini bertindak sebagai penjelas atas perintah ingatlah nikmat-Ku yang masih bersifat umum pada ayat terdahulu, sebagaimana Allah ﷻ juga menjelaskan nikmat-nikmat lain seperti naungan awan serta penurunan mann dan salwa di ayat-ayat yang berbeda.

Signifikansi ayat ini terletak pada cakupan kandungannya yang memuat tiga poin utama secara sekaligus: penyebutan nikmat penyelamatan, gambaran kekejaman Firaun dalam menyiksa Bani Israil, serta penegasan bahwa seluruh rentetan peristiwa tersebut menyimpan ujian yang sangat besar dari Allah ﷻ. Dalam konteks ini, al-Biqāʿī menerangkan dalam Nazhm ad-Durar bahwa kata al yang disandarkan pada Firaun mencakup Firaun itu sendiri beserta seluruh pengikut, keluarga, dan pendukungnya, sebab secara kebahasaan kata al digunakan untuk sosok pemimpin besar beserta orang-orang yang dekat dengannya.

Penggalan dan ingatlah ketika Kami selamatkan kamu berkedudukan sebagai maf'ul fih (keterangan waktu) dalam tata bahasa Arab yang dibaca nashab karena dihubungkan secara athaf pada Perintah ingatlah nikmat-Ku pada ayat sebelumnya, sebagaimana dijelaskan oleh al-Naḥḥās dalam I'rab al-Qur'an.

Terkait penggunaan kata al, al-Naḥḥās menukil keterangan al-Kisā'ī bahwa ungkapan al hanya berlaku bagi figur manusia atau pemimpin besar dan tidak digunakan untuk wilayah atau negeri, sehingga tidak dikenal istilah al Himsh atau al Madinah. Kata ini disandarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk merujuk pada pengikut agamanya, serta disandarkan kepada Firaun karena ia merupakan tokoh sentral dan pemimpin utama dalam kesesatan. Mengenai pembentukan katanya, al-Naḥḥās menjelaskan bahwa kata al berasal dari kata ahl yang mengalami perubahan huruf ha menjadi alif, sehingga apabila dibentuk menjadi kata kecil (tashghir) akan kembali ke bentuk asalnya yaitu uhayl.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya