home masjid

Pemberihan Dosa Syirik dan Penerimaan Taubat Bani Israil

Rabu, 30 September 2026 - 06:15 WIB
Pemberihan Dosa Syirik dan Penerimaan Taubat Bani Israil
Ayat ke-54 dari Surat Al-Baqarah berada dalam rangkaian kisah Bani Israil yang dipaparkan setelah perintah untuk mengingat berbagai nikmat Ilahi. Ayat ini merekam momen krusial ketika Nabi Musa menyeru kaumnya yang terjerumus dalam penyembahan patung anak sapi saat beliau pergi bermunajat di Bukit Thursina.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلْعِجْلَ فَتُوبُوٓا۟ إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَٱقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Baqarah (البقرة) : 54).

Peristiwa ini mengabadikan salah satu bentuk prosedur taubat paling berat dalam sejarah manusia, yakni perintah untuk saling membunuh sebagai sarana pembersih dosa syirik yang kemudian diterima oleh Allah sebagai wujud kasih sayang-Nya. Al-Biqāʿī menegaskan bahwa seruan ini ditujukan baik kepada mereka yang aktif menyembah anak sapi maupun mereka yang diam membiarkan kemungkaran tersebut.

Awal penggalan ayat yang berbunyi wa-idh qāla Mūsā li-qaumihī yā-qaumi melanjutkan pola perintah untuk mengingat nikmat-nikmat Allah. Al-Ṭabarī dan Al-Baghawī memperjelas bahwa seruan Nabi Musa ini ditujukan kepada kaumnya yang telah terjerumus menyembah anak sapi.

Sementara itu, Al-Biqāʿī dengan mengutip Al-Ḥarālī menjelaskan bahwa kata al-qaum merujuk pada orang-orang yang memiliki beban tanggung jawab moral untuk menegakkan kebenaran di tengah komunitas mereka.

Selanjutnya, teguran innakum ẓalamtum anfusakum bi-ittikhādhikumu al-ʿijl menguraikan hakikat kezaliman terhadap diri sendiri. Al-Ṭabarī menerangkan bahwa kezaliman terjadi ketika seseorang melakukan perbuatan yang mengundang hukuman Allah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya