home masjid

Kisah Kebangkitan Bani Israil dan Pelajaran Syukur dalam al-Baqarah Ayat 56 

Jum'at, 02 Oktober 2026 - 13:38 WIB
Kisah Kebangkitan Bani Israil dan Pelajaran Syukur dalam al-Baqarah Ayat 56

Ayat ke-56 dari Surat Al-Baqarah merupakan kelanjutan langsung dari kisah Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah ﷻ secara terang-terangan (jihārah) kepada Nabi Musa ﷺ, yang berujung pada peristiwa tersambarnya mereka oleh petir. Ayat ini secara tegas memaparkan kekuasaan mutlak Allah ﷻ dalam menghidupkan kembali manusia yang telah mati, sekaligus menjadi bukti nyata (burhān) mengenai kepastian peristiwa kebangkitan setelah kematian.

ثُمَّ بَعَثْنَٰكُم مِّنۢ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah (البقرة) : 56).

Al-Shanqīṭī menempatkan peristiwa ini sebagai salah satu dari lima bukti utama dalam Surat Al-Baqarah untuk menetapkan hakikat hari kiamat, dengan pijakan logis bahwa zat yang Mahakuasa menghidupkan satu jiwa setelah matinya tentu berkuasa penuh untuk menghidupkan seluruh jiwa manusia. Selain itu, peristiwa kebangkitan ini menjadi awal dari rangkaian karunia Allah ﷻ yang patut disyukuri sebelum berlanjut pada nikmat-nikmat berikutnya seperti naungan awan, mann, dan salwā.

Baca Juga:Pemberihan Dosa Syirik dan Penerimaan Taubat Bani Israil

Secara kebahasaan, penggalan tsumma baʿatsnākum mengandung makna menggerakkan atau membangkitkan sesuatu dari tempatnya semula. Al-Ṭabarī dan Al-Baghawī menguraikan bahwa akar kata al-baʿts biasa digunakan dalam konteks membangkitkan unta yang sedang duduk atau membangunkan orang yang sedang tidur. Dari akar kata yang sama, hari kiamat dinamai yawm al-baʿsh karena pada hari tersebut seluruh manusia digerakkan dan dibangkitkan dari alam kubur menuju padang mahsyar untuk menjalani perhitungan amal. Penggunaan kata tsumma di sini juga mengisyaratkan adanya jeda waktu dan babak baru yang melampaui sekadar peristiwa sebab-akibat dari kematian mereka.

Penggalan selanjutnya, min baʿdi mawtikum, menegaskan bahwa mereka benar-benar mengalami kematian fisik yang nyata akibat sambaran petir (ṣāʿiqah), bukan sekadar pingsan atau hilang kesadaran. Sejumlah riwayat dari Ibn Abī Ḥātim mengonfirmasi bahwa tujuh puluh orang pilihan yang menyertai Nabi Musa ﷺ tewas seketika setelah mendengar suara dahsyat tersebut. Ibn Katsīr, Qatādah, dan Al-Rabīʿ bin Anas menjelaskan bahwa kematian tersebut merupakan hukuman atas kelancangan tuntutan mereka, sedangkan kebangkitan mereka kembali ke dunia bertujuan agar mereka dapat menyempurnakan sisa jatah usia dan rezeki yang telah ditetapkan. Al-Biqāʿī menambahkan bahwa kesempatan hidup kedua di dunia ini tidak menghapuskan beban syariat (taklīf), melainkan menjadi sarana untuk membersihkan batin melalui amal saleh di negeri ujian ini.

Frasa penutup laʿallakum tasykurūn menerangkan tujuan utama di balik penangguhan dan pengembalian kehidupan mereka. Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa Allah ﷻ menghidupkan mereka kembali agar mereka menyadari besarnya nikmat serta kesempatan bertobat dari dosa besar yang baru saja mereka lakukan. Senada dengan hal tersebut, Al-Biqāʿī dan Al-Shanqīṭī menekankan bahwa kebangkitan ini adalah bentuk kasih sayang Allah ﷻ agar manusia senantiasa kembali kepada ketaatan. Peristiwa historis ini menggarisbawahi bahwa setiap karunia kehidupan adalah amanah yang menuntut respons berupa rasa syukur yang diwujudkan melalui ketundukan penuh kepada Sang Pencipta.

(zhd)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya