home global news

Lepas Jamaah Umrah Karya Imtaq, Ustaz Sofyan Munawar: Luruskan Niat dan Jarum Hati

Rabu, 07 Oktober 2026 - 19:57 WIB
Lepas Jamaah Umrah Karya Imtaq, Ustaz Sofyan Munawar: Luruskan Niat dan Jarum Hati. Foto: Henri LH.
Ketua Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW Persis) DKI Jakarta, Al-Ustaz Sofyan Munawar, mengingatkan 50 jamaah umrah PW Persistri DKI Jakarta agar tidak memaknai perjalanan ke Tanah Suci sekadar sebagai perjalanan fisik. Menurutnya, umrah merupakan perjalanan hati untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Ustaz Sofyan saat memberikan tausiyah sekaligus melepas rombongan jemaah umrah PW Persistri DKI Jakarta bersama PT Karya Imtaq di Pesantren Persatuan Islam (PPI) 69 Matraman, Jakarta Timur, Rabu (7/10/2026).

Ia menegaskan bahwa keberangkatan umrah yang telah dipersiapkan sejak jauh hari merupakan hasil dari kesungguhan, niat, dan ikhtiar yang matang. Oleh karena itu, jamaah perlu mempersiapkan diri secara lahir maupun batin sebelum berangkat.

Persiapan umrah dinilai tidak cukup hanya dengan membawa pakaian, paspor, biaya perjalanan, dan obat-obatan, melainkan hal yang jauh lebih penting adalah menata hati. "Umrah itu bukan sekadar perjalanan dari Indonesia menuju Makkah dan Madinah. Umrah adalah perjalanan hati untuk kembali mendekat kepada Allah SWT," ujar Ustaz Sofyan.

Ia meminta agar jamaah tidak menjadikan ibadah umrah sebagai sarana mencari pengakuan, popularitas, atau sekadar pengalaman perjalanan. Sebaliknya, jamaah hendaknya datang ke Tanah Suci sebagai hamba yang benar-benar membutuhkan kedekatan dengan Sang Pencipta. "Jangan hanya mempersiapkan pakaian ihram, paspor, uang, obat-obatan, dan keperluan lainnya. Yang paling penting adalah menyiapkan hati. Luruskan niat dan jarum hati, jangan berbelok ke mana-mana. Berangkatlah semata-mata karena Allah," tuturnya.

Selain itu, Ustaz Sofyan mengingatkan bahwa kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci merupakan nikmat sekaligus izin khusus dari Allah SWT. Rombongan yang berjumlah 51 orang termasuk pembimbing diimbau untuk selalu menjaga sikap, mengendalikan emosi, dan memperbanyak kesabaran di tengah dinamika kondisi di lapangan.

Kualitas ibadah disebutnya tidak hanya tercermin dari kekhusyukan saat berdoa atau membaca Al-Qur'an, tetapi juga dari kemampuan menjaga akhlak ketika berinteraksi dengan sesama jemaah. "Jangan egois, jangan hanya ingin selamat sendiri dan nyaman sendiri. Karena kita berangkat bersama, maka harus saling membantu dan saling menolong. Kadang kita bisa sabar dan khusyuk ketika membaca Al-Qur’an, tetapi ketika antre di lift atau antre makan justru tidak sabar. Karena itu, jaga kesabaran dan akhlak selama di Tanah Suci," tegasnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya