Tafsir Al-Baqarah Ayat 61: Bahaya Kufur Nikmat dan Menukar Karunia Ilahi
Ahmad zuhdi
Jum'at, 09 Oktober 2026 - 07:31 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 61: Bahaya Kufur Nikmat dan Menukar Karunia Ilahi
Ayat ke-61 dari Surat Al-Baqarah merekam bagian penting dari dialog antara Bani Israil dan Nabi Musa terkait ketidakmampuan mereka untuk bersyukur atas karunia makanan yang melimpah di padang Tih. Setelah sebelumnya Allah ﷻ memancarkan dua belas mata air dari batu untuk mencukupi kebutuhan air mereka, ayat ini memperlihatkan dinamika psikologis kaum yang bosan terhadap makanan surgawi berupa mann dan salwā.
وَإِذْ قُلْتُمْ يَٰمُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍۢ وَٰحِدٍۢ فَٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ مِنۢ بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ ٱلَّذِى هُوَ أَدْنَىٰ بِٱلَّذِى هُوَ خَيْرٌ ۚ ٱهْبِطُوا۟ مِصْرًۭا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ وَٱلْمَسْكَنَةُ وَبَآءُو بِغَضَبٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلنَّبِيِّۦنَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (QS. Al-Baqarah (البقرة) : 61).
Sheikh Abdurrahman as-Sa'di menegaskan bahwa permintaan mereka untuk mengganti makanan tersebut diucapkan atas dasar kebosanan, rasa jemu, serta sikap meremehkan nikmat agung yang telah dianugerahkan secara gratis. Ketidakmampuan menahan diri ini akhirnya mengarahkan mereka pada teguran keras serta hukuman berupa kehinaan dan kemurkaan dari Allah ﷻ.
Pada penggalan awal, wa idz qultum yā mūsā lan naṣbira 'alā ṭa'āmin wāḥid, kata ṣabr secara bahasa dimaknai oleh Imam at-Tabari sebagai kemampuan untuk menahan dan mengurung diri dari sesuatu. Dengan demikian, ungkapan Bani Israil menggambarkan pengakuan bahwa mereka tidak sanggup lagi menahan diri hanya dengan mengonsumsi satu jenis makanan secara terus-menerus.
Meskipun mann dan salwā terdiri dari dua jenis hidangan, Imam al-Baghawi menjelaskan bahwa tradisi bahasa Arab kerap menyebut dua hal dengan lafal tunggal. Selain itu, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa kedua makanan tersebut biasa diolah dan diadon secara bersamaan, atau dimakan secara berbarengan sehingga dianggap sebagai satu kesatuan hidangan.
Ibnu Katsir mengutip pandangan al-Hasan al-Basri yang menyoroti sisi psikologis mereka, di mana kejenuhan membuat mereka merindukan pola makan lama berupa sayur-mayur, kacang adas, bawang merah, dan gandum yang terbiasa mereka santap sebelumnya.
وَإِذْ قُلْتُمْ يَٰمُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍۢ وَٰحِدٍۢ فَٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ مِنۢ بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ ٱلَّذِى هُوَ أَدْنَىٰ بِٱلَّذِى هُوَ خَيْرٌ ۚ ٱهْبِطُوا۟ مِصْرًۭا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ وَٱلْمَسْكَنَةُ وَبَآءُو بِغَضَبٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلنَّبِيِّۦنَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (QS. Al-Baqarah (البقرة) : 61).
Sheikh Abdurrahman as-Sa'di menegaskan bahwa permintaan mereka untuk mengganti makanan tersebut diucapkan atas dasar kebosanan, rasa jemu, serta sikap meremehkan nikmat agung yang telah dianugerahkan secara gratis. Ketidakmampuan menahan diri ini akhirnya mengarahkan mereka pada teguran keras serta hukuman berupa kehinaan dan kemurkaan dari Allah ﷻ.
Pada penggalan awal, wa idz qultum yā mūsā lan naṣbira 'alā ṭa'āmin wāḥid, kata ṣabr secara bahasa dimaknai oleh Imam at-Tabari sebagai kemampuan untuk menahan dan mengurung diri dari sesuatu. Dengan demikian, ungkapan Bani Israil menggambarkan pengakuan bahwa mereka tidak sanggup lagi menahan diri hanya dengan mengonsumsi satu jenis makanan secara terus-menerus.
Meskipun mann dan salwā terdiri dari dua jenis hidangan, Imam al-Baghawi menjelaskan bahwa tradisi bahasa Arab kerap menyebut dua hal dengan lafal tunggal. Selain itu, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa kedua makanan tersebut biasa diolah dan diadon secara bersamaan, atau dimakan secara berbarengan sehingga dianggap sebagai satu kesatuan hidangan.
Ibnu Katsir mengutip pandangan al-Hasan al-Basri yang menyoroti sisi psikologis mereka, di mana kejenuhan membuat mereka merindukan pola makan lama berupa sayur-mayur, kacang adas, bawang merah, dan gandum yang terbiasa mereka santap sebelumnya.