home global news

Ketum PP Persis Kupas Tantangan Global dan Strategi Dakwah di TKJ 6

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:10 WIB
Ketum PP Persis Kupas Tantangan Global dan Strategi Dakwah di TKJ 6. Foto: Ahmad Zuhdi.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Ustaz Jeje Zaenudin, melanjutkan pemaparan materi mendalam dalam kegiatan Training Kepemimpinan Jam'iyyah (TKJ) batch 6. Dalam sesi materi tersebut, dia menyoroti tantangan pertahanan dan geopolitik global yang tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer konvensional semata, melainkan melibatkan ketahanan rakyat secara menyeluruh.

Menurutnya, kekuatan sebuah bangsa sangat bergantung pada ketahanan pangan, kemandirian pengelolaan tanah, serta perlindungan terhadap riset strategis agar tidak mudah dikendalikan oleh kekuatan asing. "Maka cara yang terdekat, yang paling mudah bagaimana membangun ketahanan rakyat," ujar Ustaz Jeje dalam pemaparannya di Balai Bahasa, Rawamangun, Jakarta, Sabtu (10/10/1994).

Selain aspek ketahanan pangan dan ekonomi, Ustaz Jeje juga memperingatkan para peserta mengenai ancaman perang nonmiliter yang menyasar generasi muda Indonesia melalui fenomena yang disebut sebagai "generasi strawberry". Generasi ini digambarkan memiliki tampilan fisik dan luar yang menarik, namun rentan secara mental serta rapuh dari sisi kesehatan akibat paparan lingkungan, produk kimia, dan pola hidup modern.

"Generasi yang cakep, ganteng, bintang, menarik. Tapi mereka dalam tubuhnya adalah kropos. Kropos mentalitas dan kropos kesehatan," tegasnya.

Kondisi ini diindikasikan sebagai bagian dari infiltrasi dan tekanan nonmiliter yang secara sistematis memengaruhi struktur sosial masyarakat.

Selain itu, di tengah arus polarisasi umat, perpecahan politik, serta pergeseran otoritas keilmuan agama akibat dominasi internet dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Ustaz Jeje menekankan pentingnya komitmen kebangsaan yang sejalan dengan nilai-nilai keislaman.

Ia mengingatkan agar para kader Persis senantiasa merawat persatuan, memperkuat komitmen kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai wadah perjuangan bersama. "Yang kita pertimbangkan ini adalah NKRI-nya sebagai warisan perjuangan panjang dari yang seluruh konstitusinya dibangun di atas nilai-nilai Islam," ungkapnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya