Ketum Al Washliyah Imbau Jamaah Umrah Waspada Eskalasi Konflik
Ahmad zuhdi
Senin, 12 Oktober 2026 - 10:49 WIB
Ketum Al Washliyah Imbau Jamaah Umrah Waspada Eskalasi Konflik. Foto: Istimewa.
Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, KH Masyhuril Khamis mengimbau seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Arab Saudi, khususnya para jamaah umrah, untuk meningkatkan kewaspadaan, mengutamakan keselamatan jiwa, serta mengikuti arahan otoritas setempat menyusul eskalasi konflik Timur Tengah yang semakin memanas.
Imbauan ini disampaikan setelah adanya serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10 Oktober 2026 yang memicu korban jiwa dan luka-luka.
Dalam situasi keamanan yang belum menentu, Masyhuril menegaskan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama bagi setiap jemaah. Para jemaah diminta untuk tetap tenang, tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, serta membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terlebih jika berada di wilayah yang terdampak langsung oleh dinamika keamanan tersebut.
“Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas. Makanya kami mengimbau seluruh jemaah umrah Indonesia, terutama jamaah Al Washliyah, untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan senantiasa mengikuti arahan resmi dari otoritas terkait, dalam hal ini Kementerian Haji dan Umrah,” ujar Masyhuril dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).
Selain itu, Masyhuril juga meminta pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah agar dapat memberikan informasi secara detail dan berkelanjutan mengenai situasi terkini di Arab Saudi. Apabila kondisi di lapangan dinilai tidak memungkinkan, kementerian diharapkan dapat mengambil langkah-langkah preventif demi melindungi keselamatan jemaah umrah serta seluruh WNI yang berada di Tanah Suci.
"Bagi jamaah yang saat ini masih berada di Tanah Suci, komunikasi intensif dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) harus terus dijaga guna memantau perkembangan situasi keamanan, perubahan jadwal perjalanan, maupun prosedur darurat. Koordinasi yang baik antara jemaah, pembimbing ibadah, pihak travel, dan perwakilan pemerintah sangat diperlukan agar setiap perkembangan dapat direspons secara cepat dan tepat," ujarnya.
Sementara itu, kepada calon jamaah umrah yang masih menunggu jadwal keberangkatan di Tanah Air, Masyhuril berpesan agar senantiasa memantau perkembangan situasi keamanan serta memastikan status penerbangan melalui maskapai dan biro perjalanan resmi. Jika terjadi perubahan situasi yang berdampak pada perjalanan, calon jemaah perlu menanyakan opsi yang tersedia secara jelas, termasuk prosedur penjadwalan ulang serta ketentuan perjalanan yang berlaku.
Imbauan ini disampaikan setelah adanya serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10 Oktober 2026 yang memicu korban jiwa dan luka-luka.
Dalam situasi keamanan yang belum menentu, Masyhuril menegaskan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama bagi setiap jemaah. Para jemaah diminta untuk tetap tenang, tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, serta membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terlebih jika berada di wilayah yang terdampak langsung oleh dinamika keamanan tersebut.
“Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas. Makanya kami mengimbau seluruh jemaah umrah Indonesia, terutama jamaah Al Washliyah, untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan senantiasa mengikuti arahan resmi dari otoritas terkait, dalam hal ini Kementerian Haji dan Umrah,” ujar Masyhuril dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).
Selain itu, Masyhuril juga meminta pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah agar dapat memberikan informasi secara detail dan berkelanjutan mengenai situasi terkini di Arab Saudi. Apabila kondisi di lapangan dinilai tidak memungkinkan, kementerian diharapkan dapat mengambil langkah-langkah preventif demi melindungi keselamatan jemaah umrah serta seluruh WNI yang berada di Tanah Suci.
"Bagi jamaah yang saat ini masih berada di Tanah Suci, komunikasi intensif dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) harus terus dijaga guna memantau perkembangan situasi keamanan, perubahan jadwal perjalanan, maupun prosedur darurat. Koordinasi yang baik antara jemaah, pembimbing ibadah, pihak travel, dan perwakilan pemerintah sangat diperlukan agar setiap perkembangan dapat direspons secara cepat dan tepat," ujarnya.
Sementara itu, kepada calon jamaah umrah yang masih menunggu jadwal keberangkatan di Tanah Air, Masyhuril berpesan agar senantiasa memantau perkembangan situasi keamanan serta memastikan status penerbangan melalui maskapai dan biro perjalanan resmi. Jika terjadi perubahan situasi yang berdampak pada perjalanan, calon jemaah perlu menanyakan opsi yang tersedia secara jelas, termasuk prosedur penjadwalan ulang serta ketentuan perjalanan yang berlaku.