home masjid

Kisah Perjuangan dan Keteladanan Rumah Tangga Nabi Ibrahim As

Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:35 WIB
Kisah Perjuangan dan Keteladanan Rumah Tangga Nabi Ibrahim As
Sejarah peradaban Islam mencatat kisah keteladanan yang amat mendalam dari perjalanan rumah tangga Nabi Ibrahim alaihis salam (As), Siti Hajar, dan Nabi Ismail As. Perjalanan hidup mereka dipenuhi dengan kepasrahan mutlak kepada perintah Allah ﷻ, keteguhan jiwa saat menghadapi ujian kemanusiaan, serta ikhtiar tanpa batas yang melahirkan fondasi keberkahan bagi Kota Makkah dan seluruh umat Islam hingga hari ini.

Kisah agung ini bermula ketika Nabi Ibrahim a.s. membawa Siti Hajar dan putra mereka yang masih menyusu, Ismail, menuju sebuah lembah yang gersang dan tidak berpenghuni di dekat lokasi Baitullah. Di tempat yang sunyi tanpa sumber air maupun kehadiran manusia tersebut, Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya dengan hanya menyisakan sebuah kantong berisi kurma dan wadah air, semata-mata demi menjalankan wahyu Ilahi.

Siti Hajar sempat mengejar langkah Nabi Ibrahim seraya bertanya alasan di balik keputusan untuk meninggalkan mereka di lembah tandus tersebut. Namun, ketika Siti Hajar menegaskan pertanyaannya apakah tindakan tersebut merupakan perintah Allah ﷻ dan Nabi Ibrahim a.s. mengiyakannya, terlontar ucapan penuh ketawakalan dari bibir Siti Hajar: "Jika demikian, Dia tidak akan pernah menelantarkan kami." Kepasrahan total ini menjadi bukti puncak keteguhan akidah seorang ibu dalam meyakini jaminan Allah ﷻ.

Setelah tidak lagi terlihat oleh anak dan istrinya, Nabi Ibrahim menghadap ke arah Baitullah dan memanjatkan doa yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Beliau memohon agar keturunannya senantiasa mendirikan salat, dianugerahi rasa kasih sayang dari hati manusia, serta dikaruniai rezeki berupa buah-buahan agar mereka menjadi hamba yang senantiasa bersyukur.

Ujian fisik pun tiba ketika persediaan air habis. Siti Hajar harus menyaksikan Ismail kecil bergeliat dan meronta kehausan. Didorong oleh rasa kasih sayang keibuan dan ikhtiar nyata, beliau berlari-lari kecil melintasi Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari pertolongan atau tanda-tanda kehadiran manusia. Daya juang tanpa kenal lelah inilah yang kelak diabadikan oleh Rasulullah ﷺ sebagai asal mula syariat Sa'i dalam ibadah Haji dan Umrah.

Pertolongan Allah ﷻ hadir melalui perantara Malaikat Jibril yang mengikis tanah hingga memancarkan air Zamzam yang melimpah. Siti Hajar dengan sigap membendung air tersebut agar dapat ditampung. Atas keberadaan sumber air ini, kabilah Jurhum yang melintas di wilayah tersebut meminta izin untuk bermukim. Siti Hajar menyambut mereka dengan hangat, tanpa menyerahkan hak kepemilikan atas air Zamzam, sehingga kawasan yang semula mati berkembang menjadi permukiman yang hidup.

Nabi Ismail tumbuh besar di tengah kabilah Jurhum, mempelajari bahasa Arab, serta tumbuh menjadi sosok pemuda yang amat memikat dan dihormati. Setelah Siti Hajar wafat dan Nabi Ismail menikah, Nabi Ibrahim datang berkunjung untuk meninjau keadaan keluarganya. Namun, pertemuan pertama dengan istri pertama Nabi Ismail menunjukkan karakter wanita yang suka meratap dan mengeluhkan kesempitan hidup.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya