Gelar Seminar IPCC 2026: Fadli Zon Tegaskan Komitmen Diplomasi Budaya Indonesia-Pasifik
Zada nur ilma
Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:54 WIB
Fadli Zon menegaskan diplomasi budaya sebagai soft power untuk memperkuat kemitraan IndonesiaPasifik, mendorong kolaborasi berkelanjutan, dan melindungi warisan budaya di tengah krisis iklim.
LANGIT7.ID-Yogyakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menggarisbawahi bahwa budaya merupakan kekuatan lunak (soft power) untuk menguatkan sinergi negara Pasifik dengan Indonesia di tengah ketegangan geopolitik, krisis iklim, dan transformasi digital.
Hal tersebut disampaikan Menteri Fadli saat memberikan pidato kunci (keynote speech) pada seminar “Beyond Cultural Exchange” di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sebagai rangkaian dari Indonesia–Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Menbud Fadli menegaskan bahwa seminar “Beyond Cultural Exchange” dalam IPCC 2026 merupakan komitmen Indonesia dalam memperkuat diplomasi budaya serta membangun kemitraan berkelanjutan bersama negara-negara di kawasan Pasifik.
Di tengah dinamika global yang tidak menentu, diplomasi budaya harus menempati posisi strategis sebagai infrastruktur kepercayaan dan ikatan kemanusiaan antarnegara.
“Kebudayaan harus dipandang sebagai kekuatan strategis atau soft power dalam membentuk kerja sama dan pembangunan internasional. Pengaruh internasional dapat diperkuat melalui daya tarik dan legitimasi, bukan melalui pemaksaan,” ucap Menteri Kebudayaan Fadli Zon di hadapan para delegasi, akademisi, dan praktisi budaya Indonesia dan Pasifik.
Komitmen Indonesia dalam menjalin sinergi dengan negara-negara Pasifik terwujud dalam sejumlah program kerja sama, yakni forum kebudayaan IPCC 2026 di Yogyakarta serta Indonesia-Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 lalu di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Menbud Fadli menilai, program-program sinergi tersebut harus dilaksanakan secara berkelanjutan, seperti melalui residensi dan diskusi budaya.
Menteri Fadli melanjutkan, “Program residensi seniman antarnegara membawa keragaman tradisi melalui proses belajar bersama dan penciptaan karya seni kolaboratif.
Hal tersebut disampaikan Menteri Fadli saat memberikan pidato kunci (keynote speech) pada seminar “Beyond Cultural Exchange” di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sebagai rangkaian dari Indonesia–Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Menbud Fadli menegaskan bahwa seminar “Beyond Cultural Exchange” dalam IPCC 2026 merupakan komitmen Indonesia dalam memperkuat diplomasi budaya serta membangun kemitraan berkelanjutan bersama negara-negara di kawasan Pasifik.
Di tengah dinamika global yang tidak menentu, diplomasi budaya harus menempati posisi strategis sebagai infrastruktur kepercayaan dan ikatan kemanusiaan antarnegara.
“Kebudayaan harus dipandang sebagai kekuatan strategis atau soft power dalam membentuk kerja sama dan pembangunan internasional. Pengaruh internasional dapat diperkuat melalui daya tarik dan legitimasi, bukan melalui pemaksaan,” ucap Menteri Kebudayaan Fadli Zon di hadapan para delegasi, akademisi, dan praktisi budaya Indonesia dan Pasifik.
Komitmen Indonesia dalam menjalin sinergi dengan negara-negara Pasifik terwujud dalam sejumlah program kerja sama, yakni forum kebudayaan IPCC 2026 di Yogyakarta serta Indonesia-Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 lalu di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Menbud Fadli menilai, program-program sinergi tersebut harus dilaksanakan secara berkelanjutan, seperti melalui residensi dan diskusi budaya.
Menteri Fadli melanjutkan, “Program residensi seniman antarnegara membawa keragaman tradisi melalui proses belajar bersama dan penciptaan karya seni kolaboratif.