Di Balik Angka Rp271,2 Triliun: Bagaimana Jamkrindo Menjaga UMKM Tetap Berdiri Kokoh
Tim langit 7
Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:48 WIB
Direktur Utama Jamkrindo Abdul Bari menegaskan komitmen perusahaan memperluas akses pembiayaan UMKM dan memperkuat industri penjaminan nasional.
LANGIT7.ID-Jakarta; Ada angka yang jarang jadi sorotan ketika membicarakan Jamkrindo: 9,46 juta tenaga kerja. Jumlah itu bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata betapa penjaminan yang dilakukan perusahaan ini menyentuh lapisan ekonomi paling bawah — pedagang kecil, pengrajin, koperasi — yang selama ini sulit mengakses pembiayaan bank.
Hingga September 2026, PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) mencatat volume penjaminan konsolidasi Rp271,20 triliun dengan 2,97 juta UMKM-K sebagai terjamin. Angka itu bukan hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga seberapa jauh jangkauan layanan telah merambah ke pelosok usaha rakyat.
Direktur Utama Jamkrindo, Abdul Bari, menyebut capaian tersebut turut mendorong laba sebelum pajak Rp1,1 triliun. Namun ia menegaskan bahwa pertumbuhan bagi Jamkrindo bukan sekadar soal besaran. "Bagi Jamkrindo, menjaga kinerja bukan semata-mata tentang pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut memiliki fondasi yang kuat dan memberikan manfaat jangka panjang," ujarnya di sela-sela Pemimpin Redaksi Gathering Jamkrindo di Semarang, Jumat (23/10/2026).
Menata Ulang Struktur Industri
Di balik capaian itu, Jamkrindo tengah menghadapi tugas besar yang tak terlihat publik: membenahi struktur industri penjaminan agar lebih efisien. Perusahaan mendukung penuh arahan pemegang saham terkait penyederhanaan (streamlining) klaster penjaminan konvensional dan syariah — langkah yang dinilai penting untuk membangun industri yang lebih efisien, terintegrasi, dan optimal.
"Kami mendukung upaya penguatan struktur industri yang mempertimbangkan kelayakan bisnis, efektivitas operasional, pengelolaan risiko, serta keberlanjutan jangka panjang," kata Abdul Bari.
Ia menyebut langkah tersebut selaras dengan aspirasi pemegang saham agar Jamkrindo ke depan semakin feasible, sizeable, sustainable, dan menjadi global player. Selaras pula dengan roadmap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pemurnian industri penjaminan.
Hingga September 2026, PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) mencatat volume penjaminan konsolidasi Rp271,20 triliun dengan 2,97 juta UMKM-K sebagai terjamin. Angka itu bukan hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga seberapa jauh jangkauan layanan telah merambah ke pelosok usaha rakyat.
Direktur Utama Jamkrindo, Abdul Bari, menyebut capaian tersebut turut mendorong laba sebelum pajak Rp1,1 triliun. Namun ia menegaskan bahwa pertumbuhan bagi Jamkrindo bukan sekadar soal besaran. "Bagi Jamkrindo, menjaga kinerja bukan semata-mata tentang pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut memiliki fondasi yang kuat dan memberikan manfaat jangka panjang," ujarnya di sela-sela Pemimpin Redaksi Gathering Jamkrindo di Semarang, Jumat (23/10/2026).
Menata Ulang Struktur Industri
Di balik capaian itu, Jamkrindo tengah menghadapi tugas besar yang tak terlihat publik: membenahi struktur industri penjaminan agar lebih efisien. Perusahaan mendukung penuh arahan pemegang saham terkait penyederhanaan (streamlining) klaster penjaminan konvensional dan syariah — langkah yang dinilai penting untuk membangun industri yang lebih efisien, terintegrasi, dan optimal.
"Kami mendukung upaya penguatan struktur industri yang mempertimbangkan kelayakan bisnis, efektivitas operasional, pengelolaan risiko, serta keberlanjutan jangka panjang," kata Abdul Bari.
Ia menyebut langkah tersebut selaras dengan aspirasi pemegang saham agar Jamkrindo ke depan semakin feasible, sizeable, sustainable, dan menjadi global player. Selaras pula dengan roadmap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pemurnian industri penjaminan.