home masjid

Pesan MUI untuk Dai: Jaga Marwah, Hindari Candaan Tarif, dan Poligami

Selasa, 03 November 2026 - 09:12 WIB
Masjid di area Universitas Ummul Qura, Makkah. Foto: Ahmad Zuhdi.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Cholil Nafis, memberikan peringatan keras kepada para dai agar senantiasa menjaga etika, marwah, serta substansi risalah Islam saat berada di atas mimbar dakwah. Pesan penting tersebut ditekankan di hadapan para peserta Standardisasi Dai Angkatan ke-51 yang dihelat oleh Komisi Dakwah MUI di Universitas Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Kegiatan pembinaan yang dilangsungkan pada Senin (2/11/2026) ini bertujuan untuk memperkuat kualitas moral serta profesionalisme para penceramah agama. MUI memandang bahwa peran seorang dai sangat strategis dalam membimbing umat, sehingga setiap penyampaian pesan keagamaan harus senantiasa berpijak pada landasan akhlak yang luhur dan mulia.

Dalam arahannya, Ustaz Cholil secara khusus menyoroti pentingnya menjaga orientasi dakwah yang murni berlandaskan ketulusan serta penyampaian nilai-nilai kebaikan. Ia mengingatkan agar para penceramah tidak menjadikan urusan materi sebagai fokus utama yang mendominasi substansi penyampaian risalah di hadapan masyarakat.

Lebih lanjut, ia secara tegas meminta para dai untuk menghindari kebiasaan menjadikan besaran tarif ceramah sebagai bahan pembahasan publik. Menurutnya, aspek komersial semacam itu memiliki etika tersendiri yang harus dijaga agar tidak merendahkan kehormatan dan kemuliaan majelis ilmu.

Tidak hanya soal materi bayaran, Ustaz Cholil juga memberikan kritik tajam terhadap kebiasaan sebagian pengisi acara yang melontarkan gurauan tidak pantas, seperti lelucon mencari istri keempat atau poligami. Ia menilai candaan semacam itu sangat tidak layak dipertontonkan di ruang publik meskipun hanya diniatkan sebagai bentuk selingan humor.

"Maka kalau ceramah jangan soal berapa bayarannya, itu ada etikanya. Apalagi ceramah hanya untuk mencari istri keempat. Itu enggak baik gitu, meskipun bercanda itu ya enggak baik," tegas Kiai Cholil dikutip laman MUI, Selasa (3/11/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat tersebut menjelaskan bahwa program Standardisasi Dai yang digagas oleh MUI dirancang khusus untuk membentengi umat dari pemahaman menyimpang. Melalui pembinaan yang terstruktur, para dai diharapkan mampu tampil sebagai teladan yang mencerahkan tanpa harus terjebak dalam gaya komunikasi yang sensasional atau murahan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya