Muhammadiyah
Maraknya Fenomena Agnostisisme Bakal Dikaji dalam Munas Tarjih
Ahmad zuhdi
Selasa, 03 November 2026 - 09:27 WIB
Maraknya Fenomena Agnostisisme Bakal Dikaji dalam Munas Tarjih
Perkembangan zaman dan arus globalisasi modern saat ini menghadirkan berbagai tantangan baru dalam cara pandang masyarakat terhadap eksistensi Tuhan. Di tengah situasi di mana sebagian kalangan mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan atau memilih untuk bersikap netral tanpa mengambil kesimpulan—yang dikenal sebagai fenomena agnostisisme—Muhammadiyah turut memberikan pandangan serta respons strategis, salah satunya melalui perumusan Risalah Akidah Islam yang akan dibahas secara mendalam dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih Muhammadiyah ke-XXXIII di Surabaya pada 5–7 November 2026 mendatang.
Secara etimologis, istilah agnostisisme merujuk pada pandangan bahwa keberadaan Tuhan atau realitas tertinggi tidak dapat diketahui secara pasti, atau setidaknya belum dapat dibuktikan melalui pengetahuan empiris yang dimiliki oleh manusia. Fenomena ini mencerminkan adanya pergeseran cara pandang di sebagian kelompok masyarakat modern yang mulai meragukan prinsip-prinsip ketuhanan yang selama ini menjadi pedoman hidup beragama.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menjelaskan bahwa dinamika hubungan antara manusia dan agama sebenarnya tidak pernah bergerak secara linear sejak masa lalu. Dalam perjalanan panjang sejarah peradaban manusia, gelombang ketertarikan, kerinduan, hingga kejenuhan terhadap agama selalu terjadi secara fluktuatif dari masa ke masa.
"Pada suatu saat orang bisa rindu kepada agama, di saat lain orang juga bisa bosan kepada agama. Jadi berbelok-belok sejak dari zaman dulu," ungkap Syamsul dalam Konferensi Pers menjelang Munas Tarjih di Yogyakarta, dikutip laman Muhammadiyah, Selasa (3/11/2026).
Syamsul menguraikan bahwa fluktuasi tersebut dapat dilacak melalui pembabakan sejarah peradaban global, mulai dari dominasi nilai-nilai keagamaan yang kuat pada Abad Pertengahan, menguatnya pendekatan rasional serta sekuler di era Renaisans, hingga kemunculan berbagai tren pemikiran kontemporer di abad ke-21 yang turut memengaruhi cara pandang sebagian generasi terhadap eksistensi Sang Pencipta.
Kendati dihadapkan pada berbagai tantangan pemikiran modern dan maraknya paham yang meragukan agama, Muhammadiyah menegaskan bahwa nilai-nilai ketuhanan harus senantiasa ditempatkan sebagai fondasi mutlak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, selaras dengan falsafah dasar negara Republik Indonesia yang termaktub dalam sila pertama Pancasila.
"Bagi masyarakat seperti orang-orang Muhammadiyah, kepercayaan kepada Tuhan itu adalah penting. Apalagi kita bangsa Indonesia, sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan ini mengimplikasikan bahwa bangsa kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa," tegas Syamsul.
Secara etimologis, istilah agnostisisme merujuk pada pandangan bahwa keberadaan Tuhan atau realitas tertinggi tidak dapat diketahui secara pasti, atau setidaknya belum dapat dibuktikan melalui pengetahuan empiris yang dimiliki oleh manusia. Fenomena ini mencerminkan adanya pergeseran cara pandang di sebagian kelompok masyarakat modern yang mulai meragukan prinsip-prinsip ketuhanan yang selama ini menjadi pedoman hidup beragama.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menjelaskan bahwa dinamika hubungan antara manusia dan agama sebenarnya tidak pernah bergerak secara linear sejak masa lalu. Dalam perjalanan panjang sejarah peradaban manusia, gelombang ketertarikan, kerinduan, hingga kejenuhan terhadap agama selalu terjadi secara fluktuatif dari masa ke masa.
"Pada suatu saat orang bisa rindu kepada agama, di saat lain orang juga bisa bosan kepada agama. Jadi berbelok-belok sejak dari zaman dulu," ungkap Syamsul dalam Konferensi Pers menjelang Munas Tarjih di Yogyakarta, dikutip laman Muhammadiyah, Selasa (3/11/2026).
Syamsul menguraikan bahwa fluktuasi tersebut dapat dilacak melalui pembabakan sejarah peradaban global, mulai dari dominasi nilai-nilai keagamaan yang kuat pada Abad Pertengahan, menguatnya pendekatan rasional serta sekuler di era Renaisans, hingga kemunculan berbagai tren pemikiran kontemporer di abad ke-21 yang turut memengaruhi cara pandang sebagian generasi terhadap eksistensi Sang Pencipta.
Kendati dihadapkan pada berbagai tantangan pemikiran modern dan maraknya paham yang meragukan agama, Muhammadiyah menegaskan bahwa nilai-nilai ketuhanan harus senantiasa ditempatkan sebagai fondasi mutlak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, selaras dengan falsafah dasar negara Republik Indonesia yang termaktub dalam sila pertama Pancasila.
"Bagi masyarakat seperti orang-orang Muhammadiyah, kepercayaan kepada Tuhan itu adalah penting. Apalagi kita bangsa Indonesia, sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan ini mengimplikasikan bahwa bangsa kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa," tegas Syamsul.