Ingin Jadi Pengusaha Sukses, Lakukan Ini Pada Diri Anda
Mahmuda attar hussein
Jum'at, 23 Juli 2021 - 13:37 WIB
Ilustrasi upaya mengubah pola berpikir agar sukses menjadi pengusaha. Foto: Langit7/antara
Ketua Umum Aliansi Pendidikan Vokalisasi Seluruh Indonesia (Apvokasi), Marsudi Wahyu Kisworo mengatakan, menjadi pengusaha bukan hanya soal menjalankan sebuah usaha, tapi perlu adanya mindset atau pola pikir yang cepat dalam mengambil suatu tindakan.
Menurutnya, anak muda Indonesia saat ini hanya bermental pegawai. Sehingga pola pikir yang tersebar saat ini, jika bukan menjadi pegawai maka tidak memiliki pekerjaan.
“Penyakit menular yang paling berbahaya di Indonesia adalah mentalitas pegawai yang dibenihkan sejak di sekolah hingga pelosok pedesaan. Ini adalah penyakit menular yang lebih parah dari Covid-19,” kata dia di Webinar Optimalisasi Peluang Bisnis Bagi Generasi Tangguh: Go Digital, Kamis (22/7).
Komisaris PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini mengatakan, angka pengangguran di Indonesia saat ini cukup tinggi dialami oleh mereka yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi. Jika dibandingkan dengan tamatan Sekolah Dasar (SD), angka pengangguran tamatan SD masih relatif lebih kecil.
“Ternyata makin lama sekolah itu makin lama kita nganggur. Justru yang kita lihat, tamatan perguruan tinggi lebih banyak jadi pengangguran ketimbang tamatan SD dan SMP. Ini karena sudah lulus maunya jadi pegawai, sementara mereka tamatan SD itu berani untuk bertani, atau beternak lele, tidak pakai gengsi,” katanya.
Menurutnya, kebiasaan yang salah tapi sudah menjadi budaya di Indonesia adalah masyarakat lebih banyak menghargai kecerdasan dalam akademik. Sementara bagi anak-anak yang kreatif dan berani salah, kurang dianggap sebagai anak pintar yang bisa diandalkan.
“Anak pintar main basket, pintar bernyanyi ini kurang mendapatkan apresiasi, mereka justru tidak dianggap pintar, karena anggapan pintar itu hanya terpaku soal akademisi. Padahal kita seharusnya bisa lebih menghargai orang yang berani mencoba dan berani salah,” jelasnya.
Menurutnya, anak muda Indonesia saat ini hanya bermental pegawai. Sehingga pola pikir yang tersebar saat ini, jika bukan menjadi pegawai maka tidak memiliki pekerjaan.
“Penyakit menular yang paling berbahaya di Indonesia adalah mentalitas pegawai yang dibenihkan sejak di sekolah hingga pelosok pedesaan. Ini adalah penyakit menular yang lebih parah dari Covid-19,” kata dia di Webinar Optimalisasi Peluang Bisnis Bagi Generasi Tangguh: Go Digital, Kamis (22/7).
Komisaris PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini mengatakan, angka pengangguran di Indonesia saat ini cukup tinggi dialami oleh mereka yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi. Jika dibandingkan dengan tamatan Sekolah Dasar (SD), angka pengangguran tamatan SD masih relatif lebih kecil.
“Ternyata makin lama sekolah itu makin lama kita nganggur. Justru yang kita lihat, tamatan perguruan tinggi lebih banyak jadi pengangguran ketimbang tamatan SD dan SMP. Ini karena sudah lulus maunya jadi pegawai, sementara mereka tamatan SD itu berani untuk bertani, atau beternak lele, tidak pakai gengsi,” katanya.
Menurutnya, kebiasaan yang salah tapi sudah menjadi budaya di Indonesia adalah masyarakat lebih banyak menghargai kecerdasan dalam akademik. Sementara bagi anak-anak yang kreatif dan berani salah, kurang dianggap sebagai anak pintar yang bisa diandalkan.
“Anak pintar main basket, pintar bernyanyi ini kurang mendapatkan apresiasi, mereka justru tidak dianggap pintar, karena anggapan pintar itu hanya terpaku soal akademisi. Padahal kita seharusnya bisa lebih menghargai orang yang berani mencoba dan berani salah,” jelasnya.