Komisaris PSIS Soroti Online Abuse di Liga 1 2021
Arif purniawan
Kamis, 20 Januari 2022 - 11:00 WIB
Komisaris PSIS Semarang Junianto. (foto: psis semarang)
Komisaris PSIS Semarang Junianto menyoroti tindakan online abuse, atau kekerasan di media sosial yang marak selama perjalanan kompetisi BRI Liga 1 2021/2022 sampai dengan pekan ke-20.
Kekerasan di medsos bisa menimpa siapapun di era digital, termasuk para pemain PSIS.
Junaianto mengaku sebenarnya tidak melarang, suporter maupun penggemar PSIS Semarang memberikan kritik atau masukan kepada timnya saat PSIS tengah berman di bawah performa. Karena itu sebuah hal yang cukup wajar, mengingat itu merupakan sebuah gambaran rasa kasih sayang seorang fans.
Baca juga:Libur FIFA Match Day, PSIS Semarang Benahi Mentalitas dan Pola Taktikal
“Tentunya kalau sampai keterlaluan dan bahkan mempengaruhi psikologi atlet atau pemain, juga bisa dianggap sebagai sebuah kejahatan di dunia maya atau istilahnya online abuse. Dan itu saya sangat tidak setuju,” kata Junianto, Kamis (20/1).
Namun, Junianto menyoroti lontaran-lontaran yang kurang sedap dan terus dilakukan berulang-ulang. Hal itu jika terus dibiarkan berulang akan dianggap sebagai sebuah hal yang cukup wajar. Seharusnya warganet dapat mengontrol kritikan atau komentar, sebelum menuliskan di media sosial.
“Tindakan onlina abuse jangan sampai jadi hal yang diwajarkan, apalagi kalau sampai terus menyerang personal pemain, ofisial, atau siapapun itu. Kritik atau maido dengan hal yang membangun. Support atau dukungan dari suporter itu sangat dibutuhkan oleh adek-adek pemain,” ujarnya.
Kekerasan di medsos bisa menimpa siapapun di era digital, termasuk para pemain PSIS.
Junaianto mengaku sebenarnya tidak melarang, suporter maupun penggemar PSIS Semarang memberikan kritik atau masukan kepada timnya saat PSIS tengah berman di bawah performa. Karena itu sebuah hal yang cukup wajar, mengingat itu merupakan sebuah gambaran rasa kasih sayang seorang fans.
Baca juga:Libur FIFA Match Day, PSIS Semarang Benahi Mentalitas dan Pola Taktikal
“Tentunya kalau sampai keterlaluan dan bahkan mempengaruhi psikologi atlet atau pemain, juga bisa dianggap sebagai sebuah kejahatan di dunia maya atau istilahnya online abuse. Dan itu saya sangat tidak setuju,” kata Junianto, Kamis (20/1).
Namun, Junianto menyoroti lontaran-lontaran yang kurang sedap dan terus dilakukan berulang-ulang. Hal itu jika terus dibiarkan berulang akan dianggap sebagai sebuah hal yang cukup wajar. Seharusnya warganet dapat mengontrol kritikan atau komentar, sebelum menuliskan di media sosial.
“Tindakan onlina abuse jangan sampai jadi hal yang diwajarkan, apalagi kalau sampai terus menyerang personal pemain, ofisial, atau siapapun itu. Kritik atau maido dengan hal yang membangun. Support atau dukungan dari suporter itu sangat dibutuhkan oleh adek-adek pemain,” ujarnya.