Ibrahim AS dan Komunitas (1)
Imam Shamsi Ali
Senin, 26 Juli 2021 - 08:55 WIB
ilustrasi wukuf di arafah (foto: langit7.id/istock)
Di musim haji dan di musim qurban saat ini kita diingatkan tiga hal dalam Islam yang tidak terpisahkan. Haji itu sendiri, qurban (udhiyah) dan sosok seorang nabi bernama Ibrahim AS. Ketiga hal ini dalam tatanan ajaran Islam saling terkait, bahkan secara historis saling mengikat.
Hampir semua amalan haji, dari ihram, tawaf, sa’i, wukuf, jamarat, hingga ke qurban semuanya merujuk kepada Ibrahim. Bahkan qurban yang kita peringati (rayakan) tahunan juga merupakan amalan yang ditinggalkan Ibrahim AS untuk kita.
Esensi keterkaitan dan keterikatan ketiganya sesungguhnya ada pada kenyataan bahwa Islam yang Allah turunkan kepada Umat ini adalah tuntunan atau “jalan hidup yang sempurna”. Sehingga Islam yang “kaamil” (sempurna) dan berislam secara “kaafah” (menyeluruh) menjadi tuntutan bagi Umat ini.
Allah SWT berpesan: “wahai orang-orang yang beriman. Masuklah kalian ke dalam agama ini secara sempurna. Dan jangan ikuti jalan-jalan setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Al-Quran).
Singkatnya haji itu simbolisasi kesempurnaan amalan Islam. Di haji terdapat shalat, zakat, puasa, dan semua ritual dzikir, tasbih, dan seterusnya. Sementara Ibrahim adalah sosok yang telah “menyempurnakan” perintah-perintah Tuhannya. Dan qurbanlah yang menjadi pengikat kesempurnaan Islam. Bahwa tidak akan sempurna keislaman seseorang tanpa semangat juang (dikenal dalam Islam dengan jihad). Dan jihad pastinya menuntut pengorbanan.
Meneladani Ibrahim AS
Hampir semua amalan haji, dari ihram, tawaf, sa’i, wukuf, jamarat, hingga ke qurban semuanya merujuk kepada Ibrahim. Bahkan qurban yang kita peringati (rayakan) tahunan juga merupakan amalan yang ditinggalkan Ibrahim AS untuk kita.
Esensi keterkaitan dan keterikatan ketiganya sesungguhnya ada pada kenyataan bahwa Islam yang Allah turunkan kepada Umat ini adalah tuntunan atau “jalan hidup yang sempurna”. Sehingga Islam yang “kaamil” (sempurna) dan berislam secara “kaafah” (menyeluruh) menjadi tuntutan bagi Umat ini.
Allah SWT berpesan: “wahai orang-orang yang beriman. Masuklah kalian ke dalam agama ini secara sempurna. Dan jangan ikuti jalan-jalan setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Al-Quran).
Singkatnya haji itu simbolisasi kesempurnaan amalan Islam. Di haji terdapat shalat, zakat, puasa, dan semua ritual dzikir, tasbih, dan seterusnya. Sementara Ibrahim adalah sosok yang telah “menyempurnakan” perintah-perintah Tuhannya. Dan qurbanlah yang menjadi pengikat kesempurnaan Islam. Bahwa tidak akan sempurna keislaman seseorang tanpa semangat juang (dikenal dalam Islam dengan jihad). Dan jihad pastinya menuntut pengorbanan.
Meneladani Ibrahim AS