Pelatih Leicester City Ungkap Tantangan Bermain saat Ramadhan
Fifiyanti Abdurahman
Jum'at, 01 April 2022 - 08:18 WIB
Pelatih Leicester City, Kolo Toure. Foto: Instagram/Double Sport
Mantan pemain sepakbola untuk klub Arsenal, Manchester City, Loverpool dan Celtic, Kolo Touré, menceritakan suka duka para pemain Muslim selama bulan suci Ramadhan yang dimulai pada bulan April.
Touré, yang kini menjadi pelatim tim utama Leicester City FC mengungkapkan bahwa agama Islam adalah segalanya dan bisa membuat dirinya menjadi orang yang lebih baik.
“Agama saya adalah segalanya dan tanpa agama saya, saya tidak berpikir saya akan menjadi diri saya sekarang, karena saya merasa agama saya memberi saya kemajuan dan membuat saya menjadi orang yang lebih baik,” kata Touré, seperti dilansir dari Sky Sports News, Jumat (1/4/2022).
Baca juga: Mo Salah Gagal Penalti, Leicester Pantas Menang
Di Liga Premier sendiri ada sejumlah pemain Muslim yang akan berpuasa sepanjang jadwal olahraga yang padat di bulan April.
Mantan kapten Arsenal, yang melakukan debutnya untuk The Gunners lebih dari 20 tahun yang lalu, menunjukkan beberapa tantangan yang dia hadapi selama hari-harinya bermain dan bagaimana Ramadhan memengaruhi psikologi pemain.
“Saya pikir tidak minum air atau suhu panas dalam tubuh Anda adalah yang paling sulit sebagai pemain sepak bola," katanya.
Touré, yang kini menjadi pelatim tim utama Leicester City FC mengungkapkan bahwa agama Islam adalah segalanya dan bisa membuat dirinya menjadi orang yang lebih baik.
“Agama saya adalah segalanya dan tanpa agama saya, saya tidak berpikir saya akan menjadi diri saya sekarang, karena saya merasa agama saya memberi saya kemajuan dan membuat saya menjadi orang yang lebih baik,” kata Touré, seperti dilansir dari Sky Sports News, Jumat (1/4/2022).
Baca juga: Mo Salah Gagal Penalti, Leicester Pantas Menang
Di Liga Premier sendiri ada sejumlah pemain Muslim yang akan berpuasa sepanjang jadwal olahraga yang padat di bulan April.
Mantan kapten Arsenal, yang melakukan debutnya untuk The Gunners lebih dari 20 tahun yang lalu, menunjukkan beberapa tantangan yang dia hadapi selama hari-harinya bermain dan bagaimana Ramadhan memengaruhi psikologi pemain.
“Saya pikir tidak minum air atau suhu panas dalam tubuh Anda adalah yang paling sulit sebagai pemain sepak bola," katanya.