LANGIT7.ID-Bandung; Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan menggelar Perayaan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) bertajuk
Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia di Hotel Savoy Homann, Bandung. Momentum ini menjadi upaya strategis untuk menghidupkan kembali semangat Dasasila Bandung dalam konteks global saat ini, sekaligus memperkuat peran budaya sebagai jembatan perdamaian dunia.
Dalam pidato kebudayaan, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyoroti bahwa dunia tengah berada dalam fase ketidakpastian global (
uncertain world) dan erosi kepercayaan antarnegara (
trust erosion), ditandai dengan meningkatnya konflik, rivalitas geopolitik, hingga perlombaan persenjataan. Di tengah kondisi tersebut, ancaman terhadap warisan budaya juga semakin nyata, mulai dari kerusakan situs bersejarah hingga hilangnya jejak peradaban manusia akibat konflik.
Merespons hal tersebut, Menbud menegaskan bahwa
Bandung Spirit harus terus dihidupkan sebagai kompas moral dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan beradab. “Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan. Kita harus memastikan bahwa tidak ada perang yang menghapus sejarah suatu bangsa, tidak ada dominasi yang membungkam identitas, dan tidak ada sistem global yang mengabaikan suara mereka yang lemah,” tegas Menbud Fadli Zon dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026).
Lebih lanjut Menbud Fadli menegaskah bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap berada pada jalur non-blok, aktif membangun kerja sama global, serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip dalam Piagam PBB. Di tingkat domestik, penguatan ketahanan nasional terus dilakukan melalui pembangunan sumber daya manusia, ketahanan pangan, serta berbagai program prioritas menuju Indonesia Emas 2045.
Kegiatan ini turut diisi dengan dialog kebudayaan bertajuk
Refleksi Nilai Historis Konferensi Asia Afrika dalam Perspektif Kebudayaan. Dialog ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Duta Besar Republik Arab Mesir untuk Republik Indonesia, Yasser Hassan Farag Elshemy; Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa; serta
Head of Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Anton Aliabbas. Diskusi dipandu oleh Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri.
Menanggapi diskusi tersebut, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan inisiatif Pemerintah Kota Bandung untuk mengusulkan kawasan Simpang Lima, sepanjang Jalan Asia Afrika hingga Otista, sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, dengan nilai universal
Bandung Spirit. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan identitas visual serta sejarah yang melekat pada Kota Bandung.
Selain dialog, rangkaian kegiatan Perayaan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) juga mencakup peluncuran buku
Konferensi Asia Afrika dalam Gambar yang merekam jejak visual peristiwa bersejarah tersebut. Menbud menjelaskan, “Album ini bercerita tentang bagaimana mulai dari kedatangan para peserta, suasana sidang, bahkan suasana diskusi, sampai dengan acara-acara kebudayaan, yang menggambarkan secara kronologis bagaimana peristiwa KAA terjadi di Bandung,” jelas Menbud.
Rangkaian kegiatan semakin diperkaya dengan Pameran
71 Tahun Konferensi Asia Afrika yang menampilkan foto serta narasi sejarah KAA melalui pendekatan edukatif dan kuratorial.
Turut hadir dalam kegiatan ini sejumlah perwakilan diplomatik dari negara-negara peserta KAA tahun 1955, antara lain Duta Besar Republik Sudan untuk Republik Indonesia, Yassir Mohamed Ali Mohamed; Duta Besar Kerajaan Kamboja untuk Republik Indonesia, Tean Samnang; Duta Besar Republik Yaman untuk Republik Indonesia, Salem Abdulrahman Belfakeh; serta sejumlah representasi diplomatik dari Irak, Afganistan, Sri Lanka, Thailand, India, dan Timor Leste.
Sementara itu, hadir pula sejumlah tamu undangan yakni Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, R. Heru Hartanto Subolo; Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Ani Nigeriawati; Anggota DPRD Jawa Barat, Sugianto Nangolah; jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung; perwakilan komunitas budaya Jawa Barat; serta akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat. Dari jajaran Kementerian Kebudayaan, hadir Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayan, Fryda Lucyana; Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Rumah Tangga dan Protokoler, Rachmanda Primayudha; serta jajaran Kementerian Kebudayaan.
Kementerian Kebudayaan RI menegaskan komitmennya untuk menjadikan peringatan Konferensi Asia Afrika sebagai sarana diplomasi budaya melalui kerja sama antarnegara, pertukaran pengetahuan, dan pelestarian warisan budaya. Upaya ini menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan bangsa untuk merawat jati diri, memperkuat kedaulatan, dan mendorong perdamaian dunia.
(lam)