LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, secara resmi membuka Festival Liangkobori IV Tahun 2026 di Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Festival ini menjadi momentum untuk memperkuat pelindungan, pelestarian, dan pemanfaatan warisan budaya prasejarah Muna menyusul publikasi hasil penelitian pada Januari 2026 yang menetapkan lukisan cadas di Gua Metanduno sebagai lukisan tertua di dunia dalam kategori seni nonfiguratif dengan usia minimum 67.800 tahun.
Festival Liangkobori merupakan agenda budaya tahunan yang memperkenalkan kekayaan warisan budaya Kabupaten Muna melalui pertunjukan seni tradisi, pameran budaya, permainan tradisional, kuliner lokal, serta berbagai kegiatan edukasi mengenai kawasan prasejarah Liangkobori. Festival ini juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan komunitas budaya dalam memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya secara berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Desa Liangkobori, para pemangku adat, peneliti, komunitas budaya, dan masyarakat yang telah menjaga kawasan Liangkobori lintas generasi. Menurutnya, Festival Liangkobori bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan ruang untuk memperkenalkan salah satu tonggak penting sejarah peradaban manusia kepada masyarakat Indonesia maupun dunia.
"Melalui Festival Liangkobori ini kita membuka kembali salah satu bab penting dalam sejarah manusia. Tidak hanya sejarah Sulawesi atau Indonesia, tetapi juga sejarah dunia," ujar dia dalam keterangannya. Minggu (12/7/2026).
Menurut Menbud, publikasi hasil penelitian Gua Metanduno yang dirilis oleh para peneliti pada Januari lalu merupakan pencapaian penting bagi Indonesia karena memperkuat posisi Nusantara dalam peta sejarah awal peradaban manusia. Temuan itu juga membuka peluang bagi penelitian lanjutan mengenai asal-usul manusia, perkembangan seni cadas, dan evolusi kebudayaan di kawasan ini.
Menbud menegaskan bahwa temuan tersebut harus diikuti dengan upaya pelindungan yang kuat melalui kolaborasi pemerintah, peneliti, akademisi, dan masyarakat. Menurutnya, pelindungan kawasan tidak hanya bertujuan menjaga keaslian situs, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber pengetahuan, pendidikan, diplomasi budaya, serta pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan.
Saat meninjau Gua Metanduno, Menbud kembali menegaskan pentingnya menjaga situs prasejarah tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. "Ini adalah aset budaya, kekayaan budaya yang harus kita jaga. Temuan ini menunjukkan bahwa puluhan ribu tahun lalu sudah ada kehidupan dan peradaban di kawasan ini. Karena itu, situs ini harus kita amankan, lestarikan, dan preservasi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia," tegasnya.
Selain itu, Menbud turut mendorong percepatan pendataan seluruh panel lukisan cadas di kawasan Muna melalui dokumentasi digital dan penelitian kolaboratif bersama berbagai lembaga agar setiap temuan terdokumentasi dengan baik dan menjadi dasar penguatan upaya konservasi serta pengembangan ilmu pengetahuan.
Kawasan Liangkobori dikenal sebagai salah satu bentang karst terpenting di Indonesia yang menyimpan ratusan panel lukisan cadas prasejarah. Berdasarkan hasil penelitian kolaboratif BRIN, Griffith University Australia, Balai Pelestarian Kebudayaan, dan para peneliti internasional yang dipublikasikan pada Januari 2026, cap tangan di Gua Metanduno ditetapkan sebagai lukisan cadas tertua di dunia dalam kategori seni nonfiguratif dengan usia minimum 67.800 tahun.
Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Festival Liangkobori merupakan wujud sinergi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional. Menurutnya, kawasan Liangkobori memiliki nilai sejarah yang sangat penting sekaligus berpotensi menjadi penggerak pariwisata berbasis budaya di Sulawesi Tenggara.
"Festival Liangkobori bukan sekadar atraksi budaya, tetapi bentuk penghormatan sekaligus komitmen kita untuk menjaga warisan budaya agar tetap lestari bagi generasi mendatang," ujar Andi Sumangerukka.
Sementara itu, Bupati Muna, Bachrun, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Muna dalam mengembangkan kawasan Liangkobori sebagai pusat penelitian, edukasi budaya, dan destinasi wisata budaya yang tetap mengedepankan prinsip konservasi.
"Kami berharap Liangkobori dapat berkembang menjadi pusat penelitian, pusat edukasi budaya, sekaligus destinasi wisata budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan tetap menjaga kelestarian situsnya," katanya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri, Komjen Pol (Purn) Akhmad Wiyagus; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah; jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Pemerintah Kabupaten Muna; para peneliti, akademisi, budayawan, tokoh adat, serta tokoh masyarakat.
Menutup sambutannya, Menbud Fadli Zon menegaskan bahwa pengembangan kawasan Liangkobori harus mengutamakan pelindungan situs, didasarkan pada kajian ilmiah, serta melibatkan masyarakat sebagai penjaga utama warisan budaya. Pemerintah juga akan mendorong percepatan penetapan kawasan sebagai cagar budaya nasional, memperkuat dokumentasi dan riset, serta menyiapkan langkah menuju pencalonan kawasan seni cadas prasejarah Muna sebagai Warisan Dunia UNESCO.
"Liangkobori dan Gua Metanduno harus menjadi bagian dari upaya memajukan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban dunia. Warisan ini adalah kebanggaan bangsa yang harus kita jaga dan kita perkenalkan kepada dunia," tutupnya.
(lam)