LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melangsungkan pertemuan dengan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, beserta perwakilan Centre National du Cinéma et de l'Image Animée (CNC) Prancis di Jakarta, membahas penguatan kerja sama perfilman dan audiovisual sebagai salah satu pilar strategis hubungan budaya Indonesia–Prancis.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari Deklarasi Borobudur atau
Joint Cultural Strategy yang disepakati Presiden Republik Indonesia dan Presiden Prancis pada 29 Mei 2025, serta hasil pertemuan bilateral Menteri Kebudayaan Indonesia dengan Menteri Kebudayaan Prancis pada April 2026 di Paris.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa sektor perfilman dan audiovisual menjadi salah satu bidang yang paling potensial untuk menghadirkan dampak nyata dari kerja sama budaya kedua negara.
“Bagi Indonesia, sektor film dan audiovisual merupakan salah satu bidang paling penting untuk menerjemahkan kemitraan budaya Indonesia–Prancis menjadi dampak yang nyata. Kami sepenuhnya berkomitmen untuk memperkuat ekosistem film, baik dengan melestarikan khazanah sinematik melalui arsip dan restorasi, maupun dengan berinvestasi di masa depan untuk inkubasi talenta film,
" jelas Menbud Fadli Zon dalam keterangannya, Jumat (10/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah agenda strategis dan langkah konkret, antara lain penguatan tata kelola perfilman, pengembangan sumber daya manusia, skema pendanaan berkelanjutan, produksi bersama (
co-production), pengembangan animasi, perlindungan kekayaan intelektual, serta pelestarian warisan film melalui pengarsipan dan restorasi.
Menbud Fadli Zon juga menyampaikan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memperkuat kelembagaan perfilman nasional, termasuk melalui penguatan peran Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang baru terbentuk kepengurusannya. "Kami ingin membangun mekanisme pendanaan film yang lebih mandiri dan berkelanjutan, termasuk menjajaki kemungkinan pembentukan dana abadi atau skema pendanaan jangka panjang lainnya. Pengalaman CNC Prancis menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional," imbuh Menbud.
Salah satu agenda yang menjadi fokus pembahasan adalah penyelenggaraan Indonesia–France Film Lab edisi ketiga yang akan berlangsung pada November 2026 di Yogyakarta dalam rangkaian JAFF Market. Program ini akan menghadirkan lokakarya penulisan skenario dan pendampingan langsung dari La Fémis bagi sineas Indonesia. Selain itu, pada Desember 2026 CNC akan menyelenggarakan forum pertemuan
co-production pertama di Paris yang mempertemukan pelaku industri perfilman kedua negara.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menyampaikan apresiasi atas komitmen Indonesia dalam memperkuat kerja sama budaya, khususnya di bidang perfilman. Ia menegaskan kesiapan Prancis untuk terus mendukung pengembangan talenta, kolaborasi industri, serta pertukaran pengetahuan guna memperkuat hubungan budaya kedua negara melalui sektor perfilman. “Kolaborasi ini juga sangat penting bagi kami, karena di dunia yang sangat kompleks ini, kita harus mempertahankan dan mendukung kreasi lokal dengan memiliki sebuah lembaga pelestarian film,” ujar Penone.
Hadir mewakili Pemerintah Prancis dalam pertemuan tersebut antara lain Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone; Deputy Counsellor for Cooperation and Cultural Affairs, Vincent Degoul; Cultural Attaché, Carol Meyer; serta Audiovisual Project Officer, Gaspard Perelman. Pertemuan juga dihadiri Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia, Fauzan Zidni. Menteri Kebudayaan turut didampingi Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Anindita Kusuma Listya; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayudha; serta Direktur Film, Musik, dan Seni, Irini Dewi Wanti.
Melalui penguatan kerja sama ini, Indonesia dan Prancis berharap dapat memperluas akses sineas muda ke jaringan internasional, memperkuat kelembagaan perfilman, melestarikan warisan sinema, serta mendorong pertumbuhan industri budaya yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
(lam)