Iran memastikan tidak ada kemungkinan untuk membuka Selat Hormuz menyusul terjadinya pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Telah dipastikan bahwa perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung selama 21 jam menemui jalan buntu alias gagal. Ada dua poin penting yang menjadi penghalang untuk terbentuknya kesepakatan.
Tidak butuh waktu lama bagi Presiden AS Donald Trump untuk merespons gagalnya perundingan dengan Iran. Lagi-lagi dengan ancaman, Trump mengumumkan bahwa angkatan laut AS akan memulai proses memblokir semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.
Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menemui jalan buntu alias gagal mencapai kesepakatan setelah pembicaraan 21 jam dilakukan di Islamabad, Pakistan yang dimulai sejak Sabtu, 11 April.
Beberapa jam setelah keputusan gencatan senjata diumumkan, Israel malah melancarkan serangan udara paling luas ke Lebanon sejak 2 Maret, ketika pertempuran dengan Hizbullah dimulai.
Ada hampir 800 kapal terjebak di Selat Hormuz selama beberapa minggu. Jika dikaitkan dengan durasi gencatan senjata yang hanya dua minggu, maka hal ini menimbulkan ketidakpastian bagi kapal.
Iran dan Oman diizinkan untuk memungut biaya pada kapal yang melintasi Selat Hormuz, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu. Pungutan ini termasuk dalam proposal Iran dalam upaya mengakhiri perang dengan Israel dan Amerika Serikat.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Menteri Luar Negeri Penny Wong telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menyambut baik gencatan senjata antara Iran dan Amerika, selama dua minggu. Ini sebagai upaya penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Iran mengatakan telah menerima gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan yang dicapai atas persetujuan Pemimpin Tertinggi, Mojtaba Khamenei itu merupakan kemenangan bagi Iran.